Waktu Yang Tersisa
Oleh: Najwan Al Baihaqi Panjaitan
Tinn...! Tinn...! Braak!
Suara hantaman itu mengusik kesunyian malam Kairo. Pecahan kaca tremco berserakan di pinggir jalan. Aspal yang mulus tergores besi, menimbulkan suara ngilu yang menyayat telinga. Tremco tersebut tak lagi sama bentuknya, beberapa orang terpental. Warga lokal mulai berkerumun melihat apa yang sedang terjadi, polisi juga mengendalikan situasi yang sempat tak karuan.
Di sana, beberapa meter dari tempat kejadian, Ahmad terbaring jauh tak berdaya. Ia mencoba melirik dan mengarahkan pandangan ke sekeliling, tetapi tak lagi sanggup membuka mata. Sekujur tubuhnya tak mampu digerakkan.
Seketika, semuanya berubah menjadi gelap gulita.
Apakah hidupnya benar-benar harus berakhir di atas aspal dingin Kairo?
Sebelum kesadarannya lenyap sepenuhnya, gulungan memori berkelebat cepat di kepalanya menayangkan kembali hari-hari yang ia sia-siakan; kamar kos yang pengap, layar ponsel yang menyala terang hingga subuh, dan waktu yang terbuang sia-sia.
Dhabbb...
Paparan sinar matahari menyusup paksa ke pori-pori wajahnya. Matanya mengerjap, menyambut cahaya putih yang menyilaukan. Ahmad terbangun di atas tempat tidurnya. Tangannya refleks meraba-raba ponsel di samping bantal.
Jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Lagi-lagi ia melewatkan salat Subuh, sebuah kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging. Dengan malas ia bangkit, mengambil air wudu, lalu menunaikan salat Subuh tepat sebelum azan Zuhur berkumandang. Mungkin ini sudah yang ketujuh puluh kalinya ia mengerjakan salat Subuh seperti itu, seolah mengerjakan salat tepat waktu adalah hal yang tabu baginya.
Ahmad tercatat sebagai mahasiswa di Manarotul Ilmi, sebuah tempat di mana orang-orang dianggap paham agama, alim, dan terpelajar. Ia belajar tentang syariat, tentang kewajiban, tentang kejujuran dan amanah. Namun, banyak hal yang ia ketahui hanya berhenti di kepala. Ia belajar hanya demi menghadapi ujian, bukan untuk mengubah dirinya.
Ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut, dan menatap layar ponsel yang menyinari kedua matanya. Ponsel itu ia beli sebelum berangkat ke Mesir. Ahmad merengek kepada orang tuanya seperti orang yang kelaparan, memohon agar dibelikan. Ia berjanji untuk menggunakan ponsel tersebut untuk belajar.
“Mak, belikanlah aku ponsel itu. Janji, aku pakai buat belajar nanti. Janji aku rajin kuliah, rajin salat,” mohonnya.
Ibunya mengabulkan apa yang ia minta, percaya kepada anaknya agar ia tekun belajar di negeri orang. Namun, harapan ibunya tak lebih dari omong kosong seorang anak yang pandai mengelabui dengan kata-kata.
Ponsel yang dahulu ia janjikan untuk belajar, sekarang janji itu menjadi debu yang lenyap diterpa angin. Ia tak lagi mengingat janji yang dahulu diucapkannya. Ponsel tersebut ia gunakan hanya untuk dua hal: bermain game online, seperti Mobile Legends, dan menggulir media sosial hingga larut malam. Ia larut dalam game online hingga lupa waktu; kata-kata kasar terlontar, amarah yang meletup tanpa sebab yang jelas, serta menggulir media sosial tanpa batas.
Tapi, setidaknya masih ada hal yang ia jaga, Ahmad tidak berpacaran. Ia tak pernah berpacaran sejak di Indonesia hingga sampai ke Mesir. Ia berbeda dengan teman-temannya yang memilih berpacaran, berduaan, bahkan sampai ada yang satu penginapan.
Meskipun begitu, hal itu tidak membuat Ahmad menjadi lebih baik. Membandingkan dua keburukan tidak menjadikan salah satunya baik. Ia juga sering menghubungi orang tuanya, memberitahu keadaannya, namun sering kali di dalam percakapan mereka dibumbui dengan dosa. Saat ibunya bertanya tentang kuliah, mulutnya senantiasa menabur dusta.
“Gimana kuliahmu, Nak? Kuliahnya kau kan?” tanya sang ibu.
“Iya, Mak. Kuliah aku kayak biasa, nggak usah takut mamak sama kuliahku,” ujar Ahmad.
Tahun ini adalah tahun ketiga Ahmad di Mesir, setelah ia mengalami rasib yang kedua kalinya. Ahmad tak lagi pernah kuliah sejak mengalami rasib di tahun pertama. Semangat yang dahulu menggebu kini perlahan padam. Janji-janji yang ia lafazkan tak lebih sekadar menggugurkan kewajiban.
Bualan kepada ibunya sudah hampir satu tahun ia lakukan. Ahmad melakukannya tanpa ada rasa penyesalan, ia menganggap itu bagian dari proses dirinya dan mengira bahwa hal itu merupakan ketetapan Tuhan.
Jam menunjukkan pukul 15.10 sore. Sudah tiga jam lebih ia habiskan sejak beranjak dari tempat tidurnya hanya untuk menatap cahaya ponsel dan menggulirkan layar dengan jari-jarinya. Sepuluh menit lagi waktu Asar akan berkumandang. Ahmad baru tergerak untuk mengerjakan salat Zuhur.
“Ah, masih ada waktu lagi kok,” batinnya.
Sering kali ia mengulur-ngulur waktu untuk salat, padahal ayahnya telah memberi pesan kepadanya sebelum keberangkatannya:
“Salatlah kau tepat waktu, jangan kau tinggal salat itu. Tak ada gunanya kau itu sukses, tak ada gunanya kau itu kaya, kalau kau tidak salat,” ucap ayahnya.
“Ayah tak perlu kau jadi polisi, tentara, atau bupati. Bisa kau mendoakan kami, rajin kau ibadah, udah senang rasa ayah itu,” tambah ayahnya.
Ketika Ahmad mendengar kalimat itu, ia terdiam cukup lama, tatapannya hanyut. Kata-kata ayahnya berulang-ulang bergema dalam benaknya, seolah memaksanya menimbang kembali setiap makna yang tersirat. Namun, apa yang terjadi sekarang? Ahmad telah menghapus setiap makna dari pesan ayahnya.
Selepas ia bersimbah sujud kepada Tuhannya dengan gerakan seperti orang yang dikejar hewan buas, cepat tak karuan, Ahmad melanjutkan rutinitasnya: bermain Mobile Legends. Jemarinya lincah bak pemain sulap, matanya tak sedikit pun berkedip.
“Defeat! Ahh... anjing-anjing!” bentaknya.
Ucapan yang tak mungkin luput dari bibirnya, yang dalam sehari bisa sampai 33 kali, sudah seperti pengganti istigfar baginya. Tak terasa, waktu terus berputar.
Pukul 16.00. Jarinya masih bergerak di layar yang sama.
Pukul 19.30. Jeda sejenak untuk makan dan salat Magrib di penghujung waktu, lalu jempolnya kembali bergerak di game yang sama.
Pukul 23.00. Layar masih menyala terang. Hampir delapan jam waktunya habis hanya untuk mendapatkan satu kemenangan.
Tak terkira sudah berapa banyak kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya karena terus-terusan menerima kekalahan, meskipun ia pernah mencapai peringkat paling tinggi, Immortal, yang katanya “all prestasi.”
Ia berhenti sejenak bermain Mobile Legends. Merasa muak, Ahmad pun membuka YouTube, mencari Podcast yang sering ia dengarkan di malam hari. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada satu video yang dahulu sering ia putar.
Jarinya menekan layar.
Video itu bukanlah Podcast, bukan video hiburan, bukan pula prank yang menjijikkan. Akan tetapi, video tersebut berisi lagu asal Tapanuli Selatan, “Marudan Marlasniari.” Satu-satunya lagu Batak yang Ahmad sukai, bukan karena musiknya, bukan karena penyanyinya, tapi karena maknanya yang sesuai dengan dirinya. Lagu tersebut menceritakan pengorbanan dan kerja keras dari orang tua untuk anaknya agar anaknya bahagia. Makna lagu tersebut pernah membuat Ahmad menunduk dan membiarkan air matanya jatuh satu demi satu.
Ahmad mencoba memutar lagu tersebut. Tepat pukul 23.30 malam, terdengar sudah lantunan khas musik tersebut. Ia tertegun, larut dalam renungan, kelopak matanya tak sedikit pun tertutup.
Sudah lama Ahmad tidak mendengar lantunan musik tersebut. Biasanya ia mendengarnya setiap pagi karena ibunya sering memutar lagu itu. Awalnya Ahmad tidak mengetahui makna lagunya, meskipun ia orang Batak, ia tidak bisa berbahasa Batak. Ia memahami makna tersebut tatkala ia SMA.
“Marudan marlasniari hutaon doi amang... manjalaki parabitonmi...”
(Kehujanan maupun kepanasan kutahankan, Nak, demi mencari kebutuhanmu...)
Memasuki petikan instrumen itu sampai pada bait pertamanya, dada Ahmad mendadak sesak. Ia menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya malam itu, layar ponsel tidak lagi menarik perhatiannya. Ahmad mulai terbayang wajah orang tuanya yang mengelus debu dan bermandi keringat demi dirinya. Bagi orang tuanya, Ahmad adalah segalanya.
“Bope na dalan marutang hubaen doi amang... asalkan ma lalu sikolahmi...”
(Meski jalannya harus berhutang kulakukan itu, Nak, asalkan tetap lanjut sekolahmu...)
Selepas bait kedua, kelopak mata Ahmad tak lagi sanggup menahan derasnya air yang terbendung, jantungnya berdebar kencang.
Uang untuk makan.
Uang untuk kuliah.
Uang yang pernah ia habiskan begitu saja. Rasa penyesalan mulai berdatangan ke dalam pikiran. Barulah ia sadari betapa banyak uang yang telah ia gunakan, sementara di baliknya tersimpan keringat yang bercucuran.
“Bope na maridi hodok hutaoun doi inang... asalkan ma lalu sikolahmi...”
(Meskipun harus bermandikan keringat kutahankan itu, Nak, asalkan tetap lanjut sekolahmu...)
Hati Ahmad terguncang, badannya bergetar.
Jari-jemarinya meremas selimut yang ia pegang, membayangkan keringat orang tuanya yang sudah menjadi minuman, debu yang menempel sudah menjadi makanan. Barangkali selama ini ia hanya melihat apa yang diberikan orang tuanya, tanpa pernah bertanya apa yang harus mereka korbankan untuk memberikannya.
Musik terus berputar.
“Hari margonti bulan... bulan margonti tahon...”
“Pasikolahon pe mur mabahat... umur pe mur matobang...”
(Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Yang mau disekolahkan makin banyak, umur pun semakin tua...)
Ahmad terdiam.
Seakan orang tua Ahmad ingin memberikan pesan kepadanya: Sudah banyak yang kami pikirkan, Nak. Tenaga kami tidak sekuat dulu lagi, tinggal menunggu jemputan malaikat maut. Ahmad terbayang wajah orang tuanya yang mulai keriput, rambut yang mulai memutih.
“Taidung sannari ho dung magabe... hami pe inda ingot ko be...”
(Tapi setelah sekarang kau sukses... kami pun tiada kau ingat lagi...)
Ahmad membeku.
Kalimat itu seperti menghantam Ahmad lebih keras daripada bait-bait sebelumnya. Dadanya kembali sesak. Ahmad menundukkan kepala. Air matanya jatuh tanpa lagi ia tahan. Ia teringat betapa seringnya ia mengeluh ketika orang tuanya tidak mampu memenuhi keinginannya.
Betapa sering ia menghabiskan uang tanpa berpikir dari mana uang itu berasal. Padahal, setiap rupiah yang sampai ke tangannya mungkin telah dibayar dengan lelah, keringat, bahkan sakit yang tak pernah ia lihat.
“Holong ni orang tua imada tu anakna… sadalam ni lautan salombut ni sutraa….”
(Kasih sayang orang tua terhadap anaknya, sedalam lautan selembut sutra...)
Kalimat itu perlahan mengendap di dalam pikirannya. Selama ini ia mungkin hanya mengenal kasih sayang orang tuanya dari apa yang sampai ke tangannya: uang, makanan, pakaian, biaya sekolah, dan segala kebutuhan yang selalu berusaha mereka penuhi. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Ahmad mencoba melihat kasih sayang itu dari sisi yang berbeda dari pengorbanan yang berada di balik semuanya.
“Inda jongada mandokkon loja… inda jungada mengido upahh…”
(Tiada pernah mengatakan lelah, tiada pernah meminta upah...)
Ahmad menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sesak di dadanya semakin dalam. Ia baru menyadari bahwa selama ini orang tuanya tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah mereka berikan kepadanya.
Justru Ahmad-lah yang terlalu sering menghitung apa yang belum diberikan kepadanya.
Ia teringat orang tuanya yang tak pernah benar-benar mengatakan betapa lelahnya mereka, tak pernah meminta balasan atas apa yang telah diberikan. Bahkan ketika tubuh mereka mulai melemah, yang mereka pikirkan masih tetap sama: anaknya.
“Asalkan ma bayah… anakki marbahagia…”
(Asalkanlah anakku ini berbahagia...)
Tangis Ahmad pecah.
Sesederhana itu keinginan mereka.
Bukan rumah mewah. Bukan harta yang melimpah. Bukan jabatan. Bukan balasan atas setiap keringat yang jatuh. Mereka hanya ingin anaknya hidup bahagia.
Ahmad menggenggam ponselnya erat-erat. Di layar, terpampang nama Ayah dan Ibu.
Malam itu, ia tidak lagi memikirkan berapa banyak yang telah ia habiskan. Ia hanya memikirkan satu hal: Berapa banyak waktu yang masih tersisa untuk membahagiakan orang tuanya?
Namun, ia melihat betapa remuk hati mereka jika melihat apa yang Ahmad lakukan sekarang. Diri Ahmad yang selalu bergelut dengan ranjang, sementara orang tuanya hampir tersungkur ke dalam jurang.
Badan Ahmad tak lagi bisa bergerak, seakan-akan jantung berhenti berdetak. Ia menghempaskan badannya ke ranjang, memandang ke atap. Napasnya tersengal, bahunya naik turun menahan isak yang akhirnya pecah atas apa yang telah ia lakukan selama ini.
Ahmad berdiri memandang wajahnya di depan cermin. Melihat segala bentuk kekecewaan dan penyesalan terpampang jelas di wajahnya. Ia memukul-mukul dinding dengan sekuat tenaga.
Ia membenturkan kepalanya. Sekali. Dua kali.
“Bodoh…”
Suaranya bergetar. Ia memukul lagi.
“Bodoh…”
Air matanya jatuh. Namun tiba-tiba, pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya oleng, dan tangannya mencoba bersandar meraih sisi meja untuk menopang diri. Cahaya putih menghampiri Ahmad, suara dengung yang mengernyit menusuk ke kepalanya. Pandangannya mulai buram dan perlahan menjadi gelap gulita.
Tit... tit... tit...
Suara itu terdengar teratur di ruangan yang sunyi. Cahaya lampu rumah sakit menyapu wajah Ahmad yang pucat. Tubuhnya terbaring tanpa gerak, sementara selang dan kabel memenuhi sisi ranjangnya.
Kelopak matanya bergerak pelan. Jarinya bergetar. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari seminggu dalam keadaan koma, Ahmad membuka matanya sedikit. Orang-orang silih berganti datang dan pergi. Pandangannya masih kabur. Ia menarik napas pendek, seolah baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh.
“Mak…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ia mencoba menggerakkan jarinya yang lemah. Sangat lemah. Di sisi ranjang, beberapa teman-temannya sudah menunggu lama di sana. Ahmad menatap mereka, lalu bibirnya bergerak perlahan.
“Ahmad minta maaf, Mak…” Air mata menggenang di sudut matanya.
“Makasih, Mak... sudah... berjuang untuk Ahmad.”
Suara monitor masih terdengar.
Tit… tit… tit…
Napas Ahmad tiba-tiba tersendat. Matanya kembali terpejam. Genggaman di tangannya semakin erat.
“Ahmad…” seru teman-temannya. Namun kali ini, Ahmad tidak menjawab.
Tiiiiiiiiit...
Suara panjang itu memenuhi ruangan. Tangan yang menggenggamnya semakin erat. Namun kali ini, Ahmad tak lagi membalas.
Tamat.
Editor: Rasyid Ridho

Posting Komentar