Tuhan, Apa Warna Rindu?

Daftar Isi

(Sumber: Pinterest.com)

Oleh: Husein Yusnaidi

Semua manusia memiliki garis takdir yang dituliskan para malaikat di langit sejak kelahirannya. Setiap garis takdir itu saling terhubung dalam sebuah lingkaran kehidupan. Semua itu merupakan bentuk kuasa Tuhan. Sebab, Tuhan menciptakan hubungan antarmanusia sebagai sesuatu yang istimewa. Entah hubungan itu terbentuk atas dasar cinta, kasih sayang, kebencian, atau permusuhan, semuanya  akan membentuk simfoni takdir yang indah. Bisa dikatakan, hubungan itu merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Barangkali, salah satu cara Tuhan merangkai takdir adalah melalui pertemuan-pertemuan sederhana yang tak pernah kita duga maknanya. Begitulah Faisal menemukan banyak hal dalam perjalanan hidupnya, termasuk selama lima tahun terakhir di sebuah pesantren.

***

Udara hari ini terasa menenangkan. Angin yang menerpa wajah Faisal seolah membawa puluhan puisi yang berbisik di telinganya. Dedaunan bersenandung merdu di antara ranting pepohonan. Seseorang pernah berkata kepadanya, “Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.”

Untaian kalimat itu terasa semakin mengena di hatinya selama beberapa hari terakhir, seiring dengan semakin dekatnya akhir masa pengabdiannya di pesantren.

Senyum kecil terukir di bibir Faisal. Gedung-gedung bertingkat di pesantren telah menjadi saksi perjalanan lima tahunnya dalam menuntut ilmu. Pesantren tersebut memiliki aturan khusus bagi setiap santri untuk mengabdi di pesantren selama setahun usai menyelesaikan masa studi mereka. Bulan ini merupakan bulan terakhir bagi Faisal menjalani masa pengabdiannya. Rasanya, waktu melesat begitu cepat, bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya.

Buku-buku pelajaran yang dibawanya terasa ringan, seringan langkah Faisal menuju ruang kelas favoritnya. Selama satu tahun pengabdian ini, Faisal diberi tanggung jawab sebagai wali kelas. Dari kelas unggulan tersebut, ia belajar banyak hal baru yang luar biasa, mungkin jauh lebih berharga daripada yang dipelajarinya selama empat tahun menjadi santri.

Ia menyadari bahwa pendidikan sejati tidak hanya ditemukan dalam buku pelajaran, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap embusan udara yang kita hirup saban pagi. Dalam setiap langkah yang kita kuatkan setelah terjatuh. Dalam setiap goresan pena yang kita torehkan, segemetar apapun jemari kita. Di sanalah tersimpan rahasia Tuhan Yang Maha Baik.


***

“Dunia ini memiliki ribuan cabang ilmu pengetahuan,” ujar Faisal sambil tersenyum memandang murid-muridnya.

“Ratusan peradaban manusia telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu luas, mulai dari matematika, astronomi, kedokteran, perekonomian, industri, teknologi, sains, dan tentu saja ilmu tentang Tuhan. Manusia dikaruniai rasa ingin tahu yang membuatnya terus belajar dan menjelajahi cakrawala pengetahuan baru. Kita ingin membuka lembaran demi lembaran rahasia bumi dan segala isinya,”

“Lalu, kita akan bertanya: sebenarnya, apa yang ada di ujung pencarian tanpa batas ini? Ketika manusia telah menguasai segala hal di muka bumi ini, lantas apalagi yang akan dicarinya?”

Murid-murid di kelas itu menyimak dengan antusias. Cara Ustaz Faisal menjelaskan pelajaran selalu menyenangkan. Kata-katanya mengalir halus, seperti irama sungai.

“Kita akan mencari tahu tujuan kita hidup. Kita akan berusaha memahami seperti apa hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Namun, adakah manusia di muka bumi ini yang benar-benar mamahami arti kehidupan?”

Faisal terdiam sejenak.

Seorang murid mengangkat tangan,

“Ustaz, adakah orang seperti itu?”

“Kita mengenalnya, Habsyi,” jawab Faisal sambil tersenyum memandang muridnya. “Seluruh manusia di bumi ini mengenalnya, bahkan seluruh penghuni langit. Ketika beliau dilahirkan, seisi dunia bergembira memuji nama Sang Pencipta. Pepohonan melantunkan syair merdu. Badai di samudra pun mereda. Burung-burung bertasbih menyambut kehadiran sang kekasih Tuhan. Ratusan malaikat turun mengelilingi bumi. Beliau adalah sang utusan, Nabi Muhammad saw. Tidak ada kisah yang menceritakan tentang beliau, kecuali hati kita tersentuh karena kebaikan akhlaknya. Bahkan pemikiran sekeras batu pun akan melunak mendengar kelembutan perangainya.”

“Beliau yang memiliki kesabaran tanpa batas. Beliau yang telah membuka hati setiap manusia untuk selalu mencintai semesta ilmu pengetahuan. Beliau yang mengajarkan bahwa hakikat hidup diatas muka bumi ini adalah berbuat kebaikan, tidak peduli seburuk apapun keadaan dunia kelak.”

Para murid terpana. Faisal baru saja menyentuh hati mereka. Ia berhenti sejenak, membiarkan murid-murid kesayangannya merenungkan kata-kata yang baru saja disampaikan. Ia memberi waktu untuk mereka menikmati setiap untaian kalimat tersebut.

“Selalu menyenangkan dan memesona ketika mendengar kisah tentang beliau,” lanjut Faisal, “Ada satu kisah beliau yang amat saya sukai. Mungkin sebagian dari kalian juga pernah membacanya. Kisah ini terjadi pada tahun kesedihan Rasulullah saw., ketika beliau kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, yaitu istri beliau, Khadijah dan paman beliau, Abu Thalib. Keduanya merupakan sosok penting yang mendukung dakwah beliau,”

“Setelah kepergian mereka, kaum Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah saw. Oleh karena itu, beliau pergi ke Thaif untuk mencari dukungan dan perlindungan. Thaif merupakan satu kota penting di kawasan Hijaz. Rasulullah saw. berharap akan memperoleh sedikit rasa aman di sana.”

“Namun, kenyataan justru berbanding terbalik dari yang diharapkan. Beliau dtolak, dicaci maki, dihina, dan dilempari batu oleh penduduk Thaif.” 

Murid-murid menyimak dengan saksama.

“Rasululullah saw. terluka hingga tubuh beliau berlumuran darah. Apa yang beliau alami di Thaif bahkan lebih berat daripada di Makkah. Tak terbayangkan betapa besar kesedihan dan rasa sakit yang beliau rasakan saat itu.”

“Bumi turut bersedih melihat keadaan beliau. Rerumputan menunduk. Angin merasa bersalah. Semua mahkluk ikut merasakan sakit yang dialami sang utusan Tuhan.”

"Malaikat Jibril pun ikut terluka hatinya melihat kondisi sang kekasih Tuhan. Jibril berkata bahwa jika Rasulullah mengizinkan, ia akan menimpakan gunung-gunung ke atas penduduk Thaif. Namun, Rasulullah menjawab dengan lembut bahwa mereka adalah orang-orang yang belum mengerti. Beliau juga mendoakan supaya Allah melimpahkan kebaikan kepada mereka. Dan benar saja, sekitar puluhan tahun kemudian, seluruh penduduk Thaif menyatakan keislaman mereka dalam peristiwa Fathu Makkah.”

Faisal tersenyum sejenak.

“Dari kisah ini, kita belajar sesuatu yang luar biasa. Rasulullah saw. mengajarkan kita bahwa janji Tuhan yang Maha kuasa itu benar adanya dan bahwa semua kebaikan yang kita lakukan untuk dunia, tidak peduli sekecil biji jagung pun, semua akan kembali kepada diri kita sendiri dengan cara yang lebih baik.”

Faisal tersenyum, mengakhiri kisahnya.

Tak lama kemudian, bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi.

“Sebelum mengakhiri kelas kita hari ini, ada kabar gembira yang ingin saya sampaikan kepada kalian.”

Faisal tersenyum lebar.

“Atas izin Tuhan Yang Maha Baik, bulan lalu saya mendapat kabar melalui surel, bahwa saya telah diterima di salah satu universitas Islam terbaik dunia, di kota suci yang menjadi pusat peradaban umat Islam. Allah memberikan saya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Madinah.”

“Pekan depan, saya akan berangkat ke sana. Saya ingin menimba ilmu di tanah yang mulia, tempat Baginda Nabi Muhammad dilahirkan, sekaligus menziarahi kekasih Tuhan yang Maha Kuasa. Karena itu, saya memohon doa dari kalian semoga perjalanan saya dimudahkan oleh-Nya.”

 “Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian yang telah menemani masa pengabdian saya selama setahun terakhir.”

            “Sejatinya, bukan hanya kalian yang belajar banyak hal dari saya. Sayalah yang justru belajar jauh lebih banyak hal dari kalian. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali.”

            Mata Faisal berbinar menyampaikan kabar itu kepada murid-murid kesayangannya. Mereka terdiam menyimak dengan takzim, lalu tersenyum lebar melihat betapa bahagianya guru mereka.

Faisal berharap mereka turut berbahagia mendengar kabar tersebut.

***

Faisal memandang ke luar jendela. Burung besi raksasa yang ditumpanginya mulai bergerak membelah langit. Tanah kelahirannya perlahan mengecil, semakin menjauh dan akhirnya menghilang di antara awan-awan. Lambaian tangan sang bunda pun perlahan juga menghilang tak terlihat lagi. Pelukan hangat keluarganya kini kian mendingin. 

Faisal mengalihkan pandangannya ke langit-langit pesawat. Matanya menerawang, seolah ingin menembus langit dan berusaha menjangkau Tuhan.

“Tuhan, aku ingin mengatakan sesuatu kepada-Mu.”

Faisal memejamkan kedua matanya. Dalam keheningan itu, seakan hatinya mengetuk pintu Sang Kuasa.

“Terima kasih atas kesempatan luar biasa ini. Terima kasih karena Engkau mengizinkanku mengunjungi rumah-Mu dan menimba ilmu di kota tempat kekasih-Mu berada. Di kota yang kilauan cahayanya menyinari seisi semesta.”

Dadanya terasa sesak bercampur rasa haru, bahagia, dan sedih. Ia kembali menatap jendela. Tanah airnya sudah tak terlihat, yang ada hanyalah bentangan langit luas tanpa tepi.

Faisal melambaikan tangan ke arah burung-burung yang terbang di kejauhan, menitipkan sebuah pesan lirih.

“Sampai jumpa lagi. Indonesia.”

Ia membuka tas kecilnya. Di dalamnya tersimpan sebuah amplop yang dijaganya baik-baik, sepucuk surat dari murid-murid kesayangannya selama mengabdi di pesantren. Mereka berpesan agar surat itu baru dibaca setelah ia meninggalkan tanah air.

Mengingat hal itu membuatnya tersenyum. Ia merindukan kebersamaan mereka: ketika murid-muridnya aktif bertanya saat pelajaran berlangsung, ketika mereka menghafal setiap sore menjelang Maghrib di pendopo, atau ketika mereka merajuk karena tidak dipinjami ponsel.

Kenangan-kenangan itu membuat tubuhnya terasa hangat.

Faisal membuka surat tersebut perlahan. Sudah lama ia ingin mengetahui isinya.

“Assalamu’alaikum. Semoga Allah selalu menyertai Ustaz di mana pun Ustaz berada.”

Sebuah kalimat pembuka yang indah.

Faisal menatap langit-langit pesawat sejenak, kemudian meneruskan membaca.

“Kami ingin menyampaikan beribu-ribu terima kasih kepada Ustaz. Satu tahun bersama ustadz menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Perkataan yang Ustaz sampaikan selalu berhasil membangkitkan semangat kami, menyentuh hati kami, dan membuat kami merasa betapa beruntungnya kami bisa belajar di pesantren ini.”

“Kami masih mengingat ketika Ustaz mengajarkan bahasa arab di kelas, tetapi pembahasannya malah merembet ke dunia perpolitikan. Atau ketika Ustaz bercerita tentang sejarah islam dan kisah para sahabat yang membangun jiwa. Semua nasihat dan kebaikan yang Ustaz sampaikan terasa begitu indah. Ustaz selalu menjadi guru favorit bagi kami semua.”

“Kami juga ingat ketika Ustaz menerjang hujan demi membelikan takjil untuk kami berbuka puasa. Ketika Ustaz menemani kami belajar selepas Subuh setiap hari selama masa ujian. Ustaz bahkan mengajak kami berenang sampai menyewakan bus. Ustaz juga pernah mengajak kami mengunjungi dan menziarahi makam ulama penyebar islam di Ponorogo.”

“Semua kenangan itu begitu berkesan bagi kami semua.”

“Kami ingin menjadi seperti Ustaz. Kami ingin menjadi sepintar Ustaz. Menjadi seseorang yang selalu bersabar, yang tidak mudah menunjukkan amarah sepenat apapun. Seseorang yang tutur katanya lembut dan menenangkan, seperti irama aliran sungai.”

“Ketika Ustaz menyampaikan kabar gembira itu, kami tentu sangat bahagia. Namun, jauh dalam lubuk hati, kami juga takut kehilangan Ustaz. Jika Ustaz sudah tidak bersama kami lagi, kepada siapa kami akan bertanya tentang begitu banyak hal? yang memiliki wawasan seluas Ustaz? Kepada siapa kami bisa meminjam ponsel dengan kemurahan hati seperti Ustaz? Kepada siapa lagi kami dapat menceritakan mimpi-mimpi kami?”

“Kami ingin Ustaz bersama kami lebih lama. Namun, tentu kami tidak boleh bersikap egois. Perpisahan kali ini justru lebih baik menjadi sesuatu yang patut kami syukuri karena Ustaz akan melanjutkan perjalanan menimba ilmu di tanah yang mulia.”

“Maka dengan begitu cerita indah ini akan berakhir minggu ini, dan akan selalu menjadi kenangan indah sampai kapanpun.” 

“Hati-hati di sana Ustaz. Jangan lupakan kami, sebagaimana kami akan selalu mengingat Ustaz sampai kapanpun.”

“Terima kasih atas kesempatan untuk mengenal dan belajar bersama Ustaz. Kebersamaan itu merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup kami.”

“Nasihat lama itu benar: cinta memang tidak perlu dicari, sebab cinta-lah yang akan menemukan jalannya sendiri menuju kita.”

“Sampai jumpa lagi, suatu hari nanti. di dunia mana pun itu. Kami akan selalu merindukan Ustaz.”

“Semoga Allah selalu menyayangi Ustaz.”

Di dalam amplop itu juga terselip beberapa lembar foto kenangan mereka bersama.

Faisal terdiam. Dadanya terasa sesak. Air matanya mengalir, tak sanggup lagi dibendung. Ia menangis dalam sunyi.

Semua kenangan itu kembali hadir, serta kebahagiaan, tawa, kesedihan, dan haru. Ia merindukan mereka. Murid-murid yang begitu disayanginya. 

“Tuhan, jika rindu memiliki warna, barangkali ia adalah warna biru langit yang kutinggalkan. Biru yang membentang di antara dua tempat, menjadi tempat doa-doa berlayar yang tak sempat kusampaikan dan kenangan yang tak akan pernah benar-benar kutinggalkan, menetap, meski jarak perlahan memisahkan.”

Terima kasih kembali.

Janji Tuhan itu benar adanya. Kalimat yang pernah dibacanya pun terbukti nyata. Semua kebaikan yang kita berikan kepada dunia akan kembali kepada diri kita sendiri, dengan cara yang jauh lebih indah.

***

Editor: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie



Posting Komentar