Yang Salah Bukan Arahnya
Oleh: Alghifari Rizaldi
Dendam Faza ke Ziyad pun semakin menjadi-jadi dengan sesak dan sempitnya tangga imarah rumah Ziyad, bercampur hawa panas di musim panas. Ketika sampai di lantai paling atas rumah Ziyad, tanpa basa-basi Faza langsung masuk ke rumah yang pintunya tidak tertutup rapat.
“Lu lihat hasil ujian kita berdua, sama kan?, sama-sama goblok!” Bentakan Ziyad membuat suasana semakin memanas.
Faza yang sedang menenangkan kepalanya di balkon sambil menatap hasil ujiannya di layar HP langsung melirik ke Ziyad dengan tatapan sinis. “Apa? Lu nyalahin gua? Lu kalau goblok ya udah goblok aja, jangan nyalahin gua!” sergah Faza. Suaranya meninggi ke arah Ziyad.
“Eh, goblok! Lu kira nilai kita jelek salah siapa?” Ziyad melangkah maju mendekati Faza dengan tatapan tajam.
“Andai lu gak ngajak gua ngambil lembur kerja, minimal kita seharusnya ada waktu untuk membuka buku, membaca materi, dan mengejar ketertinggalan kita. Tapi lihat sekarang! Otot kita saja yang hancur karena bekerja, tapi apa? Otak kita tumpul di depan soal ujian!” ujar Ziyad ke arah Faza.
“Kalau kita gak bekerja, makan untuk besok duit dari mana?” balas Faza berteriak. Emosinya pun semakin memuncak.
“Lu gak ingat, apa? Gua cuma punya nenek di rumah yang udah sakit-sakitan!” Teriakannya berganti menjadi tangisan air mata tersedu-sedu.
“Gak ingat lu, orang tua lu tinggal Ibu lu doang dan sekarang lagi terbaring di rumah sakit?” Air mata yang ditahan Faza pun menetes di pipinya.
Ziyad pun teringat bahwasanya keadaanlah yang mengharuskan dia bekerja untuk melanjutkan kelangsungan hidup di negeri orang. Ibunya terbaring di rumah sakit karena ayahnya sendiri menceraikannya, dan itu memberikan tekanan psikis yang sangat berat. Stres kronis akibat hantaman emosi membuat imun tubuhnya drop. Ketika Ziyad mendengar cerita tersebut dari bibinya, perasaan sedih yang begitu dalam membuat dirinya terbelenggu dalam kesedihan. Ayahnya sendiri mencampakkan keluarganya, membuat dia harus tegar memikul beban hidup, bekerja keras untuk hidupnya sendiri supaya tidak membebankan keluarganya lagi.
“Kalau bukan karena kita miskin, kalau bukan karena tidak ada sokongan sepeser pun dari rumah, gua juga ogah berdiri di depan tempat cucian piring siang dan malam! Gua ke sini belajar, Zaa, bukan untuk bertahan hidup!” ujar Faza di sela Ziyad yang sedang melamun melihat keadaan sekarang.
Suasana di dalam ruangan membeku. Kemarahan kedua belah pihak berubah menjadi keheningan yang begitu mendalam.
Tak sanggup menahan sesaknya suasana ruangan akibat perdebatan sengit tersebut, Ziyad langsung melangkah pergi dari rumah Faza tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menutup pintu dengan keras, lalu mempercepat langkahnya menuruni tangga, bahkan berlari kecil di jalanan sempit Darrosah pada malam hari.
Di tengah ramainya kegiatan malam di jalanan, nafasnya memburu dan pikirannya berkecamuk tidak karuan. Ia terus bergumam dalam hati, memikirkan hal ini dan itu, merutuki kebodohannya, menyesali apa yang telah dilalui selama ini, serta berharap waktu bisa diulang kembali. Saat langkahnya terasa semakin penat dan hatinya dipenuhi rasa letih tanpa tahu harus bagaimana, Ziyad teringat satu-satunya tempat yang bisa menenangkan dirinya. Tempat paling tenang di tengah ributnya malam di sekitar Darrosah adalah Masjid Al-Azhar. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke sana.
Setibanya di Masjid Al-Azhar, Ziyad langsung duduk dan bersandar di salah satu tiang masjid yang sejuk. Suasana sakral dan damai di dalam masjid perlahan-lahan melunturkan kemarahan Ziyad. Ia hanya bisa termenung, menurunkan ego masing-masing, serta memikirkan kembali apa tujuan utama mereka merantau begitu jauh ke negeri orang.
Seketika Ziyad teringat bahwasanya yang salah bukan isi otak mereka, yang diubah bukan gaya belajarnya, dan yang difokuskan bukan pekerjaan mereka, melainkan keinginan mereka. Banyak orang di luar sana bekerja mati-matian demi uang tetapi tetap mendapatkan nilai yang bagus dan memperoleh ilmu yang dicari. Banyak juga orang di luar sana yang tidak perlu memikirkan makan esok hari atau biaya lainnya tetapi tetap gagal dalam kuliahnya. Alhasil, kembali lagi pada bagaimana keinginan orang tersebut. Apa tujuan sebenarnya datang ke negeri dengan julukan Kiblatnya Ilmu.
Kami berdua terlalu panik memikirkan bagaimana kondisi kami ke depannya, tetapi kami tidak takut bagaimana masa depan kami hancur secara perlahan. Karena setiap tunas punya potensi menjadi bunga yang cantik. Meski tempatnya tidak sempurna, ketika dirawat dengan baik, tunas itu tetap menjadi bunga yang akan mekar dengan sangat indah. Nilai kami sekarang tidak mencerminkan bahwasannya kami orang yang bodoh.
Ziyad pun teringat, nilai yang buruk bukan berarti mereka tidak pandai. Sebab, yang akan kami bawa pulang ke negeri Tanah Air bukan sekadar nilai, melainkan otak yang diisi dan ditempa, bukan hanya sebatas membawa gelar dengan kekosongan di dalam otak. Pertengkaran yang mereka lakukan hanya membuat retakan silaturahmi. Bertengkar dengan sahabat sendiri adalah perbuatan yang salah. Seharusnya mereka saling merangkul dalam keadaan senang maupun susah, lalu mengevaluasi diri untuk hari esok.
Tidak lama setelah Ziyad tenggelam dalam renungan yang sangat dalam, seketika lamunannya buyar karena seseorang muncul dari kejauhan dengan napas tersengal. Tanpa berbicara sedikit pun, ia langsung duduk di samping Ziyad. Ia adalah Faza. Faza sangat tahu dan paling mengenali sahabatnya itu. Ia tahu persis ketika sahabatnya berada dalam kesusahan, tempat pelarian terbaik yang selalu ditujunya untuk menenangkan diri tidak lain adalah Masjid Al-Azhar.
Tanpa saling menatap, kemarahan mereka berdua menguap seketika, tergantikan oleh rasa penyesalan. Keduanya tersenyum tipis menyadari kekonyolan yang mereka lakukan tadi.
Keduanya memang hidup dalam kesusahan, tetapi tekad yang susah dipadamkan dan persaudaraan mereka terbukti jauh lebih kuat daripada keadaan yang mencoba meruntuhkan mereka.
Editor: Hasan Nashrullah

Di tunggu tulisan selanjut nyaaa ka