Nestapa Lara
Oleh: Malika Zahwa
Memangnya kenapa kalau harus mengulang lagi?
Apa masalahnya memulai dari awal?
Banyak yang demikian, bukan?
Menyedihkan.
Nyatanya, semua itu hanya pelipur sesaat.
Sebab jauh di dalam jiwa,
Ada malu yang tak tertangguhkan,
Ketika segala usaha tak berujung pada hasil
Yang selama ini diidamkan.
Kasihan.
Setiap hari, ia menelan hal-hal yang sama.
Muak, tetapi berusaha tak memuntahkannya.
Kekecewaan menjadi napas
Yang terus menyertai,
Seolah tak pernah mengenal lelah
Untuk kembali.
Berapa banyak lagi sakit yang harus diredam?
Seberapa keras lagi ia harus berusaha?
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan,
Tetapi tubuhnya hanya mampu meringkuk
Dalam dekapan dingin.
Anak Adam itu menatap nanar dirinya di cermin.
Mengacak rambutnya,
Mengusap kasar wajahnya,
Memukul pelan tubuhnya sendiri.
Begitulah.
Silakan berhenti, jika memang tak sanggup lagi.
Ia terisak.
Putus asa,
Seolah tak ingin melanjutkan apa-apa lagi.
‘Seolah’.
Sebab nyatanya, ia tetap melangkah.
Menyeret jiwa dan raganya,
Mengikis sisa-sisa daya
Yang bahkan tak lagi ia pahami.
Terus meniti asa,
Berlagak layaknya manusia dewasa
Terjerat dusta, dirundung nestapa.
Editor: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie

Posting Komentar