Nestapa Lara

Daftar Isi

(Sumber: Pinterest.com)

 Nestapa Lara

Oleh: Malika Zahwa

 

Memangnya kenapa kalau harus mengulang lagi?

Apa masalahnya memulai dari awal?

Banyak yang demikian, bukan?

 

Menyedihkan.

 

Nyatanya, semua itu hanya pelipur sesaat.

Sebab jauh di dalam jiwa,

Ada malu yang tak tertangguhkan,

Ketika segala usaha tak berujung pada hasil

Yang selama ini diidamkan.

 

Kasihan.

 

Setiap hari, ia menelan hal-hal yang sama.

Muak, tetapi berusaha tak memuntahkannya.

Kekecewaan menjadi napas

Yang terus menyertai,

Seolah tak pernah mengenal lelah

Untuk kembali.

 

Berapa banyak lagi sakit yang harus diredam?

Seberapa keras lagi ia harus berusaha?

 

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan,

Tetapi tubuhnya hanya mampu meringkuk

Dalam dekapan dingin.


Anak Adam itu menatap nanar dirinya di cermin.

Mengacak rambutnya,

Mengusap kasar wajahnya,

Memukul pelan tubuhnya sendiri.

 

Begitulah.

Silakan berhenti, jika memang tak sanggup lagi.

 

Ia terisak.

Putus asa,

Seolah tak ingin melanjutkan apa-apa lagi.

 

‘Seolah’.

Sebab nyatanya, ia tetap melangkah.

Menyeret jiwa dan raganya,

Mengikis sisa-sisa daya

Yang bahkan tak lagi ia pahami.

 

Terus meniti asa,

Berlagak layaknya manusia dewasa

Terjerat dusta, dirundung nestapa.


Editor: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie


Posting Komentar