Kejutan di akhir Bulan
Oleh: Anasia (Abdul Nasr)
Senar raket itu baru saja diganti. Anas memutar gagang raket di tangannya, memastikan tidak ada yang terasa berbeda. Tarikannya masih kaku, seolah-olah raket itu belum sepenuhnya mengenal tangan yang selama ini menggenggamnya.
Di sudut kamar, sepatu bulu tangkis yang kemarin dicucinya sudah kering. Jersi untuk pertandingan pun telah dipilih.
Tinggal dua hari lagi. Ia tersenyum kecil.
Setelah sekian lama hanya bermain untuk mengisi waktu kosong, kali ini ia akan bertanding. Memang bukan kompetisi besar. Hanya mewakili daerah tempat ia tinggal. Tetapi tetap saja, ada sesuatu dalam dirinya yang berdebar setiap kali membayangkan hijaunya lapangan berkarpet, decitan sepatu yang bergesekan dengan lantai, dan suara senar raket yang beradu dengan kok.
September sepertinya akan menjadi bulan yang menyenangkan. Setidaknya begitulah yang ia pikirkan.
Dua hari kemudian, di waktu yang telah lama ia nantikan, raket itu masih tergantung kaku di sudut kamar, dekat lemari. Tak tersentuh. Nyaris berdebu. Anas bahkan kesulitan untuk sekadar duduk. Ia tak bisa melakukan apa pun selain berbaring di kasur. Kepalanya berat. Hidungnya tersumbat. Tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga untuk menopang dirinya sendiri. Setiap kali bangkit dari tempat tidur, tubuhnya terasa seperti baru saja dijatuhkan dari tempat yang tinggi.
Obat sudah diminum. Herbal sudah dicoba.
Namun keadaan tak kunjung membaik.
Ia menatap raket yang tergantung begitu saja di sana. Kemarin, benda itu membuatnya bersemangat seakan ingin menaklukkan dunia. Tetapi hari ini, ia bahkan tak punya tenaga untuk menyentuhnya.
Anas menghela napas. Lucu. Padahal seminggu yang lalu ia justru sedang memikirkan sesuatu yang lain. Sebuah renungan yang menerawang jauh tentang masa depan.
Malam itu begitu sunyi. Lampu kamar telah dimatikan. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang menyelinap masuk. Tidak terdengar suara apa pun di luar sana. Hanya gesekan daun yang terbawa angin lembut. Sepi. Namun kepala Anas justru ramai.
Ada terlalu banyak hal yang ingin ia lakukan. Hafalan yang harus selesai. Pelajaran yang ingin dikuasai. Badminton yang ia tekuni. Buku-buku yang ingin dibaca. Kemampuan yang ingin dikembangkan. Belum lagi tanggung jawab yang dititipkan di pundaknya. Ada terlalu banyak jalan yang ingin ditempuh dan terlalu sedikit waktu yang dimilikinya.
“Kalau semuanya nggak kejadian, gimana ya?” Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Ia menoleh ke arah jendela, mendekat, lalu memandangi bulan yang bersinar di luar sana. Selama ini ia mengira masalahnya adalah memilih jalan. Mungkin bukan. Mungkin masalahnya adalah ia terlalu yakin bahwa semuanya akan berjalan sebagaimana yang ia rencanakan.
Kini, masih di atas kasur yang sama. Berbagai rencana yang semula tersusun rapi mendadak tidak berarti apa-apa. Pertandingan yang telah dipersiapkan. Hafalan yang ingin diselesaikan. Hari-hari yang telah ia bayangkan. Semuanya masih ada. Hanya saja untuk sementara, ia tidak bisa berbuat banyak.
Ia kembali menatap raket di sudut kamar. Tersenyum tipis.
Barangkali manusia memang aneh.
Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk menyusun rencana tentang hari esok, seolah-olah ia pernah berjanji akan datang dalam bentuk yang kita inginkan.
Anas memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tidak perlu menenggelamkan diri dalam pikiran tentang segala sesuatu yang tidak pasti. Cukup sudah tubuhnya dikekang oleh ego dan nafsu yang selalu menuntutnya tanpa sekali pun memerhatikan keadaannya. Memanjakannya. Atau bahkan sekadar menanyakan kabarnya.
Ia hanya ingin beristirahat. Membiarkan hari esok datang sebagaimana mestinya. Tanpa berharap apa pun kecuali satu: semoga di balik ini semua, Tuhan telah menyiapkan hadiah yang jauh lebih besar daripada ujian yang Dia berikan. Semoga.
Editor: Fajar Al Rasyid, Jazil Fadly Andeswar

Posting Komentar