Helaan Malam

Daftar Isi
(Sumber: Pinterest.com)

Oleh: Elpha Yulia Putri

Matahari sudah tenggelam merajut malam, tetapi Farid masih sibuk mengayuh sepeda mengantarkan pesanan, kali ini milik seseorang dari imarah terakhir sebelum Guriyah. Farid adalah mahasiswa semester 4 Fakultas Ushuluddin di Universitas Al-Azhar Kairo.  

Bekerja sambil kuliah sebenarnya bukan sesuatu yang Farid inginkan. Ia juga sebenarnya salah satu penerima beasiswa yang menjadi favorit masisir – sebutan mereka terhadap mahasiswa Indonesia di Mesir. Hanya saja, keadaan memaksa pundak Farid menjadi lebih kokoh dari seharusnya. Pesanan yang diantar Farid pun baginya bukan sekadar pesanan, melainkan harapan yang masih bisa ia usahakan di perantauan. Ibunya di kampung tengah sakit-sakitan, sedangkan ayah tercinta sudah tutup usia satu bulan sebelum kepergiannya menuju Negeri Kinanah. Dua bulan lagi adiknya juga memasuki sekolah dasar. Di kampung memang ada tantenya yang merawat sang ibu, hanya saja keadaan ekonomi keluarga beliau juga sedang tidak baik-baik saja.  

Setelah mengantar pesanan yang memang pesanan terakhir malam itu, Farid pulang ke flat yang ia sewa bersama lima orang teman baiknya. Setelah bersih-bersih dan salat Isya, Farid berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang catnya pun sudah mulai terkelupas. Sekarang sedang liburan musim panas. Liburan atau tidak pun, bagi Farid tetap saja tidak ada hari libur. Jika di hari biasa ia akan berkuliah hingga siang lalu mulai mengantar pesanan orang-orang setelah Zuhur, maka di waktu liburan Farid akan mengambil jatah kerja lebih banyak. Bukan karena Farid tidak mau mengisi waktu dengan talaqqi, hanya saja ia ingin mengirim uang lebih ke kampung. Ia tahu ibunya membutuhkan itu sekarang. Bukan berarti ia tidak belajar, Farid rutin belajar dari malam hingga dini hari. Dua jam tidur adalah kemewahan yang masih mampu dibeli Farid. Secangkir kopi dan gelak tawa adalah penutup malam bagi sebagian orang. Namun, bagi Farid, itu adalah pemborosan yang lebih pantas digantikan dengan obat untuk ibunya di kampung sana. Itu sudah lebih dari cukup bagi Farid.  

 Kadang, pada jam-jam rawan begini, pikiran Farid bisa melayang ke mana-mana.  

“Ya Allah, kok hidup berat banget ya? Aku juga mau kebagian senang, tidak bisakah setiap anak yang lahir mendapat lotre kekayaan dan hidup berkecukupan?,” batinnya setiap kali kelelahan. Keluh itu hanya singgah sebentar, lalu segera ia tepis, diiringi istigfar dan elusan di dada. Ia mencoba mengingat kembali kata-kata ibunya sebelum ia berangkat ke Mesir.  

“Nak, sesulit apa pun hidup, selalu bersyukur sama nikmat Allah, ya. Karena seluruh tenaga dan pikiran yang kamu habiskan, bahkan kelelahan yang kamu rasakan, adalah bentuk ujian dari Allah menuju hasil yang kamu sendiri enggak akan mampu bayangkan.”  

Kata-kata ibunya selalu ia jadikan penyemangat di gelapnya subuh yang menyambut hari, sekaligus penenang yang menutup  malam. Kadang kelelahan lebih baik dinikmati dan dijalani daripada dikeluhkan, tidak butuh telinga orang-orang, tanpa kita sadari akan selalu ada Allah yang mendengar helaan itu. Tak perlu kita jelaskan, Penentu takdir kehidupan itu tahu bagaimana keadaan dan setiap kelelahan yang kita rasakan. Kita cukup percaya akan selalu ada hadiah di ujung perjalanan, untuk mereka yang mau menempuh jalan yang barangkali terasa berat itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua. Malam akhirnya berhasil memeluk Farid dalam keheningan dan membebaskan Farid dari perdebatan pikiran yang tak ada habisnya, sebelum pagi kembali mengantarkan lelah-lelah baru ke hadapannya.

Editor: Pasha Mudrika Tjahya 

Posting Komentar