Genggam Tanganku!
Oleh: Mihalhayail
Kakiku melangkah ke dalam perpustakaan kampus. Ada beberapa buku yang ingin kubaca sore ini, dan tempat ini selalu terasa paling cocok untuk mencari ketenangan. Saat menyusuri deretan rak untuk mencari meja yang nyaman, sekilas kulihat Zaky duduk di sudut ruangan. Dia tampak termenung dengan dahi berkerut.
Zaky kebingungan? Tidak biasanya.
Zaky yang kukenal bukanlah orang yang mudah ragu. Dia selalu percaya diri dan punya cara cerdas memecahkan masalah. Beberapa kali dia membantuku menemukan jalan keluar, bahkan untuk rumitnya persoalan yang tak sanggup diselesaikan teman-temanku yang lain. Kuhampiri dia. Siapa tahu kali ini gantian aku yang bisa membantunya.
“Kamu ngapain, Zaky? Kok sendirian aja?” tanyaku sembari tersenyum ramah.
Zaky sedikit kaget melihatku tiba-tiba muncul. Nafasnya berhembus berat.
“Aku sedang bingung,” ucapnya pelan.
Dahinya yang berkerut menguatkan ucapannya.
“Tumben seorang Zaky bingung,” gurauku, mencoba mencairkan suasana seraya mengambil tempat duduk tepat di hadapannya.
Dia menatapku lekat-lekat. “Aku ingin memetik bunga di seberang jalan, tetapi bunga itu sepertinya tidak ingin dipetik olehku. Lihat saja kelopaknya, ia bersandar ke batang pohon lain.”
Aku sedikit kaget. Zaky memang selalu serius, tetapi kali ini tatapannya jauh lebih dalam dari biasanya. Aku tahu betul apa maksud analogi itu: pasti ada wanita yang sedang ia dekati, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Seorang Zaky?
Ya Tuhan, malang sekali dia.
Aku tersenyum tipis. “Ya sudah, tinggalkan saja! Kalau begitu, tandanya bunga itu memang tidak ingin dipetik olehmu. Lagipula, bunga kan bukan cuma setangkai.”
Aku bersorak kecil di dalam hati. Nasihat bijak itu keluar begitu saja dari mulutku. Kupikir itu jawaban yang tepat. Wanita yang menyia-nyiakan cinta pria setulus Zaky memang sepatutnya dicampakkan.
Mending cintanya buat aku saja, eh.
Zaky terdiam merenung sejenak sebelum akhirnya bersuara.
“Terima kasih, Nia.” Dia tersenyum ramah sembari merapikan barang-barangnya, bersiap pergi.
“Lho, kok tiba-tiba mau pulang? Memangnya jawabanku tidak membantu?” tanyaku keheranan.
“Membantu kok, kan aku udah bilang terima kasih tadi.”
Aku semakin bingung. Baru sebentar kami berbincang, tetapi Zaky sudah mau beranjak pergi. Di ambang pintu perpustakaan, dia menatapku sekali lagi lalu melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya dengan senyuman yang agak memaksakan diri.
Aneh. Ada ganjalan teramat dalam yang tertinggal sore itu. Percakapan tadi terasa menggantung, tetapi aku tidak tahu di mana letak salahnya. Aku yakin dia sedang dilanda asmara, hanya saja aku belum paham apa masalah sebenarnya. Bisa jadi nasihatku tadi keliru.
Kepalaku mendadak pusing memikirkannya.
Malam-malam berikutnya berlalu tanpa kepastian. Semakin hari, dadaku terasa semakin sesak. Ada ruang hampa yang tiba-tiba menganga. Ibarat gelas kosong tanpa air, atau malam yang kehilangan pendar bintang, begitulah hariku belakangan ini.
Bayangan Zaky terus berputar di kepala. Biasanya, dialah tempat pertamaku mengadu jika sedang kacau begini. Segera kuambil telepon genggam dan kubuka aplikasi percakapan.
Niatku terhenti seketika.
Aku baru menyadari bahwa kami sudah hampir seminggu kami tidak bertukar kabar. Padahal biasanya dialah yang lebih dulu menyapa, atau setidaknya kami tidak sengaja berpapasan di kampus. Namun belakangan ini, dia seolah lenyap ditelan bumi. Jemariku mendadak ragu untuk mengirim pesan.
Namun... kalau bukan Zaky, siapa lagi yang bisa membantuku meredakan rasa asing ini?
Pikiranku benar-benar buntu. Aku terjebak di persimpangan: maju tak berani, mundur pun tak sanggup. Kuletakkan ponsel, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka. Rasa gelisah itu kian meluap, dan keheningan kamar mandi justru melipatgandakan sesak di dada.
Selesai membilas wajah, aku duduk di tepi ranjang, mencoba menyusun kepingan teka-teki ini satu per satu. Nihil. Tidak ada yang makin jelas. Kupejamkan mata rapat-rapat, berharap tidur bisa menghentikan pusaran kegelisahan ini.
Sayup-sayup angin malam berhembus dingin, diselingi detak jam dinding yang berdentang nyaring memecah sepi. Namun gelap malam enggan membiarkanku terlelap. Usahaku memejamkan mata berujung sia-sia.
Persetan dengan keraguan.
Kuambil kembali ponsel di samping bantal. Tanpa berpikir panjang, kuketik pesan yang cukup panjang. Aku tak peduli berapa banyak ketikan yang salah; yang penting pesan ini terkirim sebelum hatinya berganti ragu.
TAP!
Pesan terkirim. Kulempar ponsel itu agak jauh, takut dorongan impulsifku goyah.
Sekejap kemudian aku tertegun. Ada apa denganku? Kenapa mengirim pesan sederhana kepada Zaky harus membutuhkan keberanian seluar biasa ini? Bukankah dulu semuanya terasa wajar dan biasa saja? Perasaan apa sebenarnya yang sedang menggerogotiku?
TING!
Notifikasi berbunyi. Balasan darinya masuk. Dengan jantung berdegup kencang, kuraih kembali ponsel itu. Nama Zaky terpampang jelas di layar.
“Mohon maaf, Nia. Aku tidak punya solusi untuk masalahmu.”
Aku tersentak. Jawaban dingin dan singkat itu serta-merta meruntuhkan ekspektasiku yang setinggi langit. Satu-satunya nama yang kuharapkan dapat mengurai benang kusut ini adalah dia, namun jawaban darinya pula yang meremukkan benteng pertahananku. Kalau bukan mengingat kebaikannya di masa lalu, ingin rasanya meluapkan kekesalan ini.
Malam itu, aku tahu aku sedang berada di tepi jurang. Perasaan ini tak akan selesai dalam waktu dekat. Biarlah malam ini hatiku sengsara, membodohi diri dengan keyakinan bahwa esok hari segalanya akan membaik.
Namun aku keliru.
Dua minggu setelahnya menjelma menjadi neraka kecil. Detik demi detik menyiksa tanpa ada penawar yang sanggup mengobati. Hingga akhirnya hari ini, benang merah itu terurai sempurna. Zaky adalah jawaban dari seluruh kegelisahan yang mengacaukan hidupku. Ya, dia jawabannya. Semua muara rasa ini mengarah pada satu nama: Zaky.
Aku tak peduli lagi seberapa rumit perasaan ini. Yang kujamin, aku harus menemuinya hari ini juga. Metafora bunga setangkai itu ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan.
Aku bergegas mencari tahu keberadaannya. Setelah menghubungi beberapa teman dekatnya, aku berhasil mendapatkan lokasinya. Tanpa membuang waktu, aku langsung melangkah pergi. Matahari sedang terik-teriknya tepat di atas kepala. Tak peduli seberapa jauh jarak yang harus ditempuh, beban ini harus tuntas hari ini. Aku harus jujur pada diriku sendiri.
Cuaca siang itu sungguh tidak bersahabat. Keringat membasahi pakaianku, menyatu dengan kondisi tubuhku yang melemah karena nyaris tak menyentuh makanan beberapa hari terakhir. Perjalanan terasa begitu menyiksa. Namun tekat di dada mengalahkan rasa lelah. Tinggal beberapa langkah lagi.
Aku sampai.
Sosok lelaki yang kucari berdiri di ujung sana. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba melangkah meski kedua kakiku bergetar hebat. Namun mendadak, tubuhku terasa melayang tanpa bobot. Tanah di bawahku seolah melesap, pendar pandanganku menggelap dan dipenuhi kilatan bintang.
Aku resmi pingsan.
Keheningan panjang menyergap saat kesadaranku perlahan kembali. Bau antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciuman. Bunyi bip konstan dari monitor detak jantung bersahut-sahutan pelan dengan derap langkah kaki di lorong luar. Ketika kelopak mataku yang berat akhirnya terbuka, pendar lampu neon dan langit-langit serba putih menjadi pemandangan pertama.
Aku berada di rumah sakit.
Di ujung sofa kamar rumah sakit, tampak Zaky tertidur pulas dalam posisi duduk yang tidak nyaman. Dalam hening itu, kepalaku mulai merangkai kembali setiap potongan ingatan yang tercecer.
Bunga di seberang jalan... kelopak yang bersandar ke pohon lain... dan senyum pasrah Zaky sore itu.
Seketika, sebuah kesadaran menghantam dadaku dengan telak. Bunga yang ingin dipetik Zaky.... Kebingungannya sore itu adalah tentang perasaannya padaku. Dan nasihat sok bijak yang kulontarkan justru menjadi alasan utama yang membuatnya mundur dan merelakanku.
Betapa bodohnya aku.
Ungkapan yang kukira sederhana rupanya menyimpan luka yang amat dalam baginya. Kucerna kenyataan itu sekali lagi, memantapkan serpihan keberanian yang tersisa.
Keputusanku sudah bulat.
“Zaky...” panggilku lirih.
Zaky tersentak dan langsung terbangun. Matanya membelalak mendapati aku sudah sadar dengan selang infus melilit tanganku.
“Gimana, Nia? Kamu udah sadar? Ada yang sakit?” tanya Zaky bertubi-tubi, raut khawatirnya tak mampu disembunyikan.
Melihat sorot mata itu, keyakinanku makin tak tergoyahkan.
“Zaky...” panggilku sekali lagi, lebih jelas.
“Iya, Nia. Apa yang bisa aku bantu?” Zaky melangkah cepat mendatangi sisi ranjangku.
Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu ia ucapkan setiap kali aku membutuhkan perlindungan. Hatiku bergetar hebat. Memang benar, tidak ada yang lebih jujur daripada perasaan. Sekuat apapun seseorang menyembunyikannya—di bawah bantal, di balik frasa puitis, atau bahkan di dalam lembaran cerpen yang ia tulis—perasaan akan selalu menemukan jalan untuk menyeruak keluar.
“Zaa... kyy,” ucapku terengah, perlahan mengangkat tanganku yang tertancap jarum infus ke udara.
“Genggam tanganku!”

Posting Komentar