Foto Wisuda Ayah
Oleh: Husein Yusnaidi
Dulu, sewaktu aku kecil, ayah selalu mengajakku salat lima waktu di surau dekat rumah. Ayah menggandeng lengan kecilku dan aku bersenandung mengikuti langkah kakinya. Aku suka pergi ke surau. Di sana aku bertemu kawan-kawan, bermain, sekaligus mengaji. Para orang tua ramah dan gemar bercerita. Menjelang magrib, mereka membawa kudapan kecil dan teh. Itu juga alasan mengapa kehidupanku di kampung tidak pernah terpisah dari surau.
Pernah suatu malam seusai tarawih, aku dan ayah pulang berdua. Jalanan sepi. Sesekali jangkrik bersahutan. Awal Ramadan waktu itu.
“Kau lihat bulan sabit di langit itu, Boi?” Ayah menunjuk bulan yang duduk bersama gemintang. Aku mengangguk. Bulan itu kecil, tetapi cahayanya tetap indah.
“Nanti bulan itu bertambah besar setiap hari, sampai bulat sempurna macam bola sepak kau, Boi. Bulan purnama.” Aku tersenyum membayangkan bermain bola dengan bulan. “Setelah itu ia mengecil lagi, jadi sabit, lalu menghilang. Saat itulah, Boi, kita merayakan Idulfitri.”
Bagiku, itu perkataan yang ajaib. Sejak malam itu, tak satu pun gerak-gerik bulan luput dari mataku.
Aku suka setiap kali ayah bercerita. Ayah penceramah di kampung kecil kami. Khutbahnya selalu mengandung hikmah kehidupan dan aku selalu senang mendengarnya. Begitulah aku tumbuh bersama nasihat dan kebijaksanaan ayah. Dari beliau pula aku mewarisi kegemaran membaca dan belajar.
Di kelas lima SD, sekolah mengikutsertakanku dalam beberapa olimpiade akademik. Yang paling kuingat adalah olimpiade matematika se-kabupaten, yang diadakan setiap tahun. Selama dua pekan aku tak masuk kelas dan hanya belajar matematika khusus yang disiapkan sekolah.
Pada hari perlombaan, gugup berkecamuk di dadaku sejak hendak berangkat. Ayah menepuk pundakku mantap dan tersenyum. Gugupku mereda. Petangnya, daftar pemenang diumumkan dan namaku ada di urutan pertama.
Aku pulang membawa piala itu dan menyerahkannya kepada ayah. Dia tertawa lebar. “Betapa bangga ayah pada kau, Boi.” Sepekan setelahnya, ayah bercerita kepada semua orang tentang putranya yang menjuarai olimpiade matematika se-kabupaten.
Di tahun terakhir SD, sepekan sebelum wisuda, guruku mengabarkan bahwa aku alumni terbaik. Aku membayangkan berfoto bersama ayah, berbalut toga, memegang sertifikat. Bukan main gagahnya. Namun pada hari wisuda, aku jatuh sakit. Tubuhku tak sanggup bangkit dari ranjang. Ayah menyuruhku beristirahat. Angan berfoto bersama ayah pun terhapus.
Ketika SMP, aku dimasukkan ke pesantren. Tahun-tahun awal jauh dari rumah terasa berat. Rindu kerap mengusik malam-malam menjelang tidur. Untungnya, ayah sering menjengukku.
“Kau tahu kunci masuk surga, Boi?” tanya ayah.
Aku berpikir sejenak. “Kebaikan, barangkali, Yah.”
“Kau benar sekali.” Ayah mengusap kepalaku. “Kau tahu? Selama di pesantren, apa pun yang kau kerjakan, mau itu tidur, makan, main bola, semuanya dihitung kebaikan! Tak heran malaikat pun capek menulis amal kebaikan anak santri di pondok, Boi.”
Kata-kata ayah kembali menguatkan hatiku. Kubayangkan catatan kebaikan yang menumpuk jika aku bertahan tiga tahun. Sejak itu aku berusaha menjauhi perbuatan buruk. Aku khawatir sang malaikat kebingungan tak alang kepalang saat harus menimbang catatanku.
Semangat belajarku naik lagi. Setiap tahun di SMP, minimal tiga kali aku mengikuti lomba matematika, meski sering berakhir gagal. Di kelas, peringkat pertama selalu rapi tercatat di rapotku. Aku juga mulai suka membaca dan menulis puisi. Suatu kali aku menulis puisi tentang pengorbanan Ismail kecil yang hendak disembelih ayahnya, Nabi Ibrahim, dan puisi itu mengantarku menjadi juara pertama lomba puisi di sekolah.
Pada semester kedua tahun terakhir di SMP, wabah virus menyebar cepat ke seluruh pelosok negeri. Semua lembaga pendidikan diliburkan, aktivitas di luar ruangan dibatasi. Wabah itu mengerikan. Berita kematian akibat virus tersebut berebutan muncul di televisi.
Aku kecewa. Harapan berfoto bersama ayah dengan toga gagal lagi. Barangkali takdir memang tak suka aku menghadiri wisuda.
Tahun berlalu, keadaan perlahan membaik. Pemerintah kembali memperbolehkan aktivitas luar ruangan, new normal, begitu mereka menyebutnya. Saat SMA, aku dipindahkan ke pesantren yang lebih besar dan lebih ketat dalam kedisiplinan. Aku tak keberatan karena cepat beradaptasi. Pesantren baru itu menambah semangat belajarku.
Berbeda dari sekolahku dulu, pesantren ini lebih berfokus pada pendidikan agama daripada ilmu umum. Akademikku aman, peringkat pertama angkatan selalu kupegang tiap tahun. Di tahun terakhir, pesantren memintaku mengikuti olimpiade matematika. Aku terkejut, sebab selama tiga tahun aku tak mendalami matematika. Setiap hari aku tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalan.
Aku gagal. Harapan membanggakan ayah dan nama pesantren pun pupus. Aku menelepon ayah dan mengatakan betapa tak bergunanya aku. Esoknya ayah langsung datang menjengukku. “Tak usah sedih, Boi. Kau selalu memberikan yang terbaik. Bangga sekali ayah pada kau.” Kata-kata ayah, seperti biasa, menguatkan hatiku.
Saat kelulusan tiba, aku dinobatkan sebagai alumni terbaik pertama seangkatan. Namun, lagi-lagi takdir tak mengizinkanku hadir di acara wisuda. Aku terbaring sakit di rumah. Aku melewatkan kesempatan terakhir bertemu kawan-kawan, juga kesempatan berfoto bersama ayah dengan toga kelulusan.
Kabar baik datang kemudian, aku diterima di Universitas Al-Azhar, Mesir. Dua bulan menjelang keberangkatan, ayah melarangku bepergian jauh. “Begitulah tradisi keluarga kita, boi. Tak elok anak yang mau merantau keluyuran sebelum berangkat. Keamanan harus jadi prioritas.”
Aku tahu ayah bekerja sangat keras belakangan ini demi biaya keberangkatanku. Biayanya mahal, tetapi tak pernah satu keluh pun keluar dari bibir ayah. Sering aku membantunya di toko bangunan, dan sering kulihat ayah memegangi kepalanya. Kadang ia pulang dengan baju bersimbah keringat. Namun, di balik lelah yang ia pikul setiap hari, ayah selalu tersenyum hangat.
Aku merasa lancang. Ayah belum pernah menginjak tanah Mesir, tetapi aku mendahuluinya. Uang yang ayah kumpulkan mati-matian kupakai untuk keperluanku sendiri. Padahal aku tahu pasti, ayah pun ingin sekali mengunjungi negeri para nabi itu.
Maka aku berjanji. Begitu tiba di Mesir, sejak hari pertama, aku akan menabung untuk ayah. Uangnya kupakai saat wisuda nanti, supaya ayah bisa kuberangkatkan ke Mesir dan hadir di wisudaku. Aku juga akan mengajak ayah berkeliling Kairo. Janji itu kuukir dalam hati sambil memohon kepada Tuhan, semoga Dia memudahkan.
Pada hari keberangkatan, aku memeluk ayah erat sekali. Kami baru akan berjumpa lagi barangkali empat tahun mendatang. Ayah tak berhenti mendoakan keselamatanku, dan aku tak ingin melepas pelukannya. Aku berjanji membalas seluruh kebaikan dan pengorbanan ayah. Aku telah berjanji, dan lelaki sejati tak pernah ingkar janji.
***
Empat tahun di Kairo kujalani dengan satu niat. Aku makan seadanya, menekan jajan dan menyisihkan sebagian beasiswa ke tabungan yang kunamai “Tiket Ayah”. Di antara musim ujian dan diktat setebal bantal, tabungan itulah yang membuatku bertahan.
Hari ini, aku mengenakan toga wisuda Universitas Al-Azhar. Aku resmi menjadi wisudawan terbaik, peraih peringkat pertama dari seluruh mahasiswa internasional.
Namun, ayah tidak ada di sini. Ayah berpulang tujuh bulan lalu, tepat ketika hadiah terbaik untuknya telah kusiapkan. Ternyata Tuhan lebih menyayangi ayah.
Setiap kali aku menyinggung soal pulang, ayah selalu menjawab, “Simpan saja uangnya untuk wisudamu, Boi.” Maka aku tak ada di sisi ayah ketika ia sakit. Aku tak ada ketika ayah membutuhkan kehadiranku. Aku tak ada saat ia mengembuskan napas terakhir. Terima kasih pun belum sempat kuucapkan, begitu pula maaf atas beribu kesalahanku.
Sejak hari itu, aku tak sanggup lagi membuka tabungan bernama “Tiket Ayah”. Alasanku bertahan sudah tak ada lagi.
Waktu perlahan merawat luka itu. Hari ini, di hadapan panggung wisuda, kuucapkan dengan bangga bahwa penghargaan ini kuraih berkat doa dan pengorbanan ayah. Aku memang tak akan pernah punya foto wisuda bersama ayah. Namun aku tahu, dari surga ayah pasti tetap tersenyum bangga.
Editor: Muhammad Hasbi Ash Shiddieqie

Posting Komentar