Bunga Bukan Setangkai

Daftar Isi
Bunga Bukan Setangkai

Oleh: Mihalhayail

Apakah mencintai seseorang itu sudah cukup walaupun kita tidak punya keberanian untuk memilih?

Aku termenung. Sayup-sayup bisikan di sekitar mulai merasuki gendang telinga.

“Zaky, hei, kamu masih sadar, kan?” tanya Nia, seketika membuyarkan lamunanku.

“Iya, maaf, aku kepikiran sesuatu,” jawabku kikuk.

Teman-temanku melanjutkan percakapan ringan yang sempat tertunda. Malam itu, di sebuah kedai kopi, ada yang aneh dengan hatiku. Perasaan itu tak karuan dan tak sanggup kuterjemahkan. Masih teringat jelas purnama menggantung anggun di angkasa, menutup pendar bintang, sementara angin dingin Mesir menusuk menembus hingga ke tulang. Malam itu adalah awal dari perjalanan panjang.

Seusai ngobrol hangat dengan teman-teman lama, kami satu per satu mulai beranjak pergi. Aku memesan uber untuk pulang. Malam makin pekat, angin musim dingin menusuk tanpa ampun, meski jaket sudah membungkus rapat seluruh tubuhku.

Setibanya di rumah aku menyadari satu hal: jasadku memang sudah tiba di tujuan, tetapi aku meninggalkan sesuatu, hatiku tertinggal di sela-sela tatapan matanya. Kupikir aku meninggalkannya di sana. 

Gelap malam pun enggan mengizinkanku memejamkan mata kala itu.

Awalnya kupikir rasa ini hanya gejolak sesaat. Namun, takdir berkata lain; perasaan itu bertahan lama sekali hingga berbulan-bulan kemudian. Ia merasuk ke seluruh seluk-beluk hidupku–saat belajar, berolahraga, membaca, bahkan bayang-bayangnya hadir di sela-sela makan siang. Sungguh aneh, dia mengacaukan segalanya. Hari-hariku penuh dengan coretan tinta merahnya.

Namun tak mengapa. Karena aku yakin tidak ada yang benar-benar abadi, dan aku memilih bertahan dengan rasa ini sedikit lebih lama. Jika aku berhasil menahan rasa yang samar ini selama tiga bulan, mengapa tidak untuk beberapa waktu lagi?

Semuanya berjalan normal, sebelum akhirnya sebuah pesan singkat dari Nia di bulan berikutnya meruntuhkan dinding pertahanan yang telah kubangun. Hati yang sempat kutinggalkan, kembali dengan sendirinya. Bahagia? Tentu saja. Siapa yang tidak bahagia ketika sepotong hatinya yang tertinggal kembali ke pangkuan.

“Zaky, kamu luang nggak Rabu ini?” tanya Nia suatu ketika.

“Ada, luang kok,” jawabku cepat tanpa pikir dua kali. Padahal, segudang jadwal menumpuk di kalender kerja dan tenggat waktu tugas terus mengejar. Itu semua tidak menjadi masalah. Toh, kesempatan duduk bersama Nia belum tentu datang dua kali.

“Aku pengen nanya soal beasiswa, kira-kira bisa?”

Aku sedikit mengernyitkan dahi. Bukannya apa, itu sebenarnya bukan keahlianku. Aku bukan penerima beasiswa, tapi untungnya aku cukup andal dalam menggali informasi.

“Bisa banget, Nia. Aturkan saja tempatnya!” Soal informasi bisa dicari kapan hari. Teman-teman kuliahku banyak yang bisa ditanya, yang penting permintaannya sudah kuterima, sisanya biarlah berjalan ala kadarnya.

Pernahkah kalian menyimak film-film romantis, ketika pemeran pria melewati hari-harinya dengan penuh warna, dihiasi tanda tawa, pesan yang ia tunggu setiap menitnya dibalas dengan penuh hangat. Iya, aku sekarang jadi pemeran utamanya. Pertemuan itu jadi titik mula. Kami berkenalan lebih jauh, sangat jauh malahan. Percakapan kami mulai melebar, pertanyaan yang tadinya tentang beasiswa mulai meluas ke hobi dan preferensi pribadi.

Sungguh masa-masa yang indah untuk dikenang. Tidak untuk diulang.

Tidak ada yang lebih indah daripada sepotong hati yang kembali dan bermekaran di taman. Jika musim semi tiba, aku yakin keindahannya tak akan sanggup menandingi setangkai bunga yang sedang kugenggam kala itu.

Namun, aku keliru. Bunga bukan setangkai dan kumbang bukan pula seekor. Hari-hari yang tadinya bak surga, perlahan berubah menjadi pisau yang menyayat dada.

Nia tidak seperti yang kukira, perlakuan spesial yang kukira khusus untukku rupanya jadi barang obral di antara teman-teman lelakinya. Salah siapa? Tentu salahku. Sejak awal aku bukan siapa-siapa dan bukan pemilik hatinya, dia tidak pernah menjanjikan apa pun. Akulah yang menciptakan sosok Nia yang sempurna di kepalaku tanpa persetujuan siapa pun.

Pernah sekali ingin kutanyakan hubungan apa yang dia miliki dengan seorang pria itu, kulihat mereka lumayan dekat.

“Nia, kamu suka...”

“Kamu bilang apa, Zaky?” potongnya cepat.

“Nggak, kamu suka film Spider-Man yang baru-baru ini viral nggak?” tanyaku kikuk dan sedikit salah tingkah, mencoba mengalihkan pertanyaan sebelumnya.

“Kamu nonton juga?” Nia tampak antusias.

“Yah, ngikutin aja.” Begitulah obrolan kami bermula dan berlanjut hingga beberapa jam berikutnya dengan topik yang loncat-loncat.

Selalu menyenangkan mendengar ocehannya, seakan-akan aku bisa hidup hanya dengan meminum suaranya. Tetap terjaga hanya dengan memandang matanya. Sungguh indah. Namun, hari-hari berikutnya hatiku kembali bimbang. Nia memberikan tanggapan yang sama kepada semua lelaki yang ia kenal. Itu tidak spesial, aku saja yang terlalu berharap.

Begitulah, kadang aku bahagia karena tanggapan itu tertuju kepadaku, dan terkadang aku sedih ketika tanggapan itu dilemparkan kepada lelaki lain. Pada akhirnya, aku harus segera memutuskan: berdiri di tempat, atau potong tali ini sekarang juga. Aku tidak ingin tali ini putus ketika ikatannya sudah sangat erat. Itu menyakitkan.

Dua pilihan yang sama-sama menyulitkan, tetapi aku harus berani memutuskannya. Cinta itu punya harga diri, ia tidak bisa digantung di atas lembar ketidakpastian. Cinta membenci hal itu.

Aku mulai menimbang dan menyusun kepingan kenangan, yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Seorang teman pernah menasihatiku, “Petiklah bunga terindah yang pertama kali kau pandang. Jangan menunggu bunga lain, karena ia akan selalu bermunculan di setiap sudut taman.”

Namun batin kecilku berbisik sebaliknya, “Mencintai seseorang itu tidak cukup jika kau tidak punya keberanian untuk memilihnya sebagai pasangan hidup.”

Lalu aku bertanya, “apakah aku benar-benar sedang jatuh cinta, atau hanya sedang bermain-main dengan perasaan?” Aku merenung lama sekali, embun malam pun mulai enggan menetes, dan dedaunan tak lagi mengipasi debu jalanan.

Hingga hari itu tiba.

Suatu sore di sudut perpustakaan, aku kembali melamun. Nia, entah datang dari mana, tiba-tiba menghampiriku. “Kamu ngapain, Zaky? Kok sendirian aja?”

Aku sedikit kaget. Napasku terhembus pelan, sedangkan hati ini berdegup tak karuan. “Aku sedang bingung,” ucapku padanya spontan.

“Tumben seorang Zaky bingung,” gurau Nia diselingi tawa renyahnya.

Aku menatapnya lekat. “Aku ingin memetik bunga di seberang jalan, tetapi bunga itu sepertinya tidak ingin dipetik olehku. Lihat saja kelopaknya, ia bersandar ke tangkai pohon lain.”

Nia tersenyum tipis. “Ya sudah, tinggalkan aja! Kalau gitu, tandanya bunga itu memang tidak ingin dipetik olehmu. Lagipula, bunga kan bukan cuma setangkai.”

Jawaban itu mudah saja keluar dari bibir tipisnya, tanpa beban, tanpa sadar bahwa dialah bunga yang ingin kupetik saat itu. Mendengar jawabannya, seluruh kebimbanganku mendadak sirna. Pertanyaan yang menyiksaku sekian lama terjawab sudah.

“Terima kasih, Nia.” Aku tersenyum kepadanya, sembari merapikan barang-barangku, bersiap untuk pulang.

“Ehh, kok tiba-tiba mau pulang? Emang jawabanku nggak membantu, ya?” tanya Nia keheranan.

“Membantu kok, kan udah bilang terima kasih tadi.”

Nia makin heran melihat tingkah lakuku. Aku segera berpamitan, dan di ambang pintu perpustakaan, aku menatapnya sekali lagi, lalu melambaikan tangan.

Bunga memang bukan cuma setangkai, dan bunga pertama yang memikat mata belum tentu yang terbaik untuk dipetik saat itu juga. Jika waktunya tiba—saat aku sudah siap menyeberangi jalan kehidupan dan bunga itu pun siap bermekaran—maka aku akan datang memetiknya.

Namun, jika aku masih tertahan di persimpangan jalan, sementara bunga itu belum siap atau justru memilih dipetik oleh tangan lain, maka merelakan adalah satu-satunya pilihan. Jika kelak takdir mempertemukan kembali, aku beruntung. Jika tidak, aku tidak akan berkecil hati, sebab taman kehidupan ini luas, dan akan ada ribuan bunga lain yang siap bermekaran di sudut yang berbeda.

Pada akhirnya, cinta tanpa keberanian untuk memiliki hanyalah ilusi yang indah di kepala para pecandu...

Posting Komentar