Besok Datang Lagi

Daftar Isi

(Sumber: Pinterest.com)
 

Oleh: Muhammad Adli Fauzi     

Pagi itu, tepat di perkarangan kampus Universitas Al-Azhar Mesir, di depan pintu masuk Fakultas Syariah Islamiyah banin, terjadi sedikit keributan antara mahasiswa lokal dan mahasiswa asing, Di tengah ramainya mahasiswa yang sibuk mengurus pemberkasan, ada dua mahasiswa yang sedang ribut adu mulut.  

“Saya udah antre di sini sejak pukul tiga pagi, kamu seenaknya menerobos antrean, tolong hargai kami di sini sebagai mahasiswa asing yang datang jauh untuk menuntut ilmu, jangan semaunya ya..,” teriak mahasiswa asing setelah salah satu mahasiswa asal Mesir itu mencoba dan berhasil menerobos antrian.

“Terserah saya, semua orang juga ada keperluan, apa hak mu?” balas mahasiswa asal Mesir itu dengan tanpa rasa bersalah. 

“Jangan mentang – mentang kamu warga lokal bisa berlaku seenaknya terhadap pendatang, kita semua sama disini, jadi tolong bijak lah sedikit,” ucap mahasiswa asing itu dengan sedikit emosi, karena merasa di curangi.

Jika dilihat, sepertinya mahasiswa itu berasal dari negara Sudan, perawakannya yang tinggi besar, berkulit gelap, serta suaranya yang lantang membuat semua mata tertuju kepadanya. 

Karena keributan sudah sangat serius dan hampir terjadi perkelahian, mahasiswa lain yang sedang antre akhirnya melerai kedua mahasiswa itu, demi kenyamanan bersama, ada yang berpihak ke mahasiswa asing, namun banyak juga yang mendukung mahasiswa lokal yang tidak patuh dan kurang respect kepada pendatang. 

Hal ini sangat lumrah terjadi di akhir tahun ajaran, karna sebentar lagi mahasiswa akan mengikuti ujian termin, maka seluruh mahasiswa harus menyelesaikan  administrasi.

Tidak mudah mengurus administrasi di Al-Azhar, dengan sistem nya yang manual, tanpa tersentuh teknologi. 

Antrian yang panjang di depan kantor administrasi membuat siapapun terbawa emosi dan sensitif, ditambah lagi dengan tersitanya waktu dan jam belajar, semua orang ingin cepat menyelesaikan administrasi, tanpa memikirkan orang lain, selalu mengedepankan ego masing - masing, maka wajar saja sering terjadi keributan sana - sini. 

Hasan, salah satu mahasiswa  asal Indonesia baru di Al-Azhar, cukup kaget dan tidak menyangka akan serumit ini, yang ada di pikirannya saat tiba di Al-Azhar adalah, langsung memasuki kelas dan belajar untuk persiapan ujian, ternyata harus antre panjang yang harus ia lewati hanya untuk mengumpulkan berkas ke kantor administrasi dan meminta stempel mudir. 

“Kalau begini caranya, bisa bisa saya ketinggalan pelajaran, berarti besok coba datang lebih awal”  ucap Hasan dengan nada pasrah, setelah ammu syuun melontarkan kalimat keramat nya ke pada mahasiswa yang sedang antre tepat di depan jendela kantor, “BUKROH SHODIQ, YALLA INSORIFUU”…..,padahal jam dinding baru menunjukkan pukul 09.30 pagi. 

Part 2 

Setelah kemaren Hasan gagal mengumpulkan berkas, dikarenakan panjangnya antrean dan harus menyesuaikan mood ammu syuun, hari ini dia datang lebih awal ke kantor administrasi, 

“Alhamdulillah hari ini lumayan sepi, untung datang lebih awal, jadi dapat antrean agak depan” ucap Hasan dengan yakin untuk segera menyelesaikan seluruh administrasi 

Tapi, tak semudah yang di bayangkan, ternyata sudah ada orang yang booking antrean sejak pukul dua belas malam, tidak berselang lama, beberapa mahasiswa pun menghampiri hasan yang sedari tadi sudah berdiri menunggu jendela kantor di buka. 

“Maaf ustadz, kami sudah ambil antrean di sini sejak pukul dua belas malam, ini dia nama-nama nya”, jadi kami antre paling depan ya..”,  ucap beberapa mahasiswa yang datang dengan santai nya dari arah kantin kampus, sepetinya mereka baru selesai sarapan karna tidak sempat makan di rumah. 

“Serius ustad?, kalian sudah antre dari jam dua belas malam?” tanya Hasan memastikan sekaligus heran tak percaya, ini memang tidak masuk akal, siapa yang menjamin mereka sudah ada di sini sejak pukul dua belas malam.

Memang banyak sekali kekurangan Al-Azhar dalam sistem birokrasi dan administrasi, sudah banyak kritikan dan saran, namun sebagian besar para petinggi masih mempertahankan cara dan sistem lama, dengan alasan agar tidak kehilangan nilai kesederhanaan nya. 

Sehingga banyak sekali aturan tidak tertulis antara mahasiswa dan penjaga kantor, ada yang mengaku antre dari jam sekian, ada juga yang menyewa jasa joki berkas,  sampai-sampai tidak sedikit terjadi praktek kecurangan, sampai ada yang nekat melakukan sogok-menyogok antara penjaga dan mahasiswa, dengan modal hagah helwah, maka seluruh perkara mudah di selesaikan, tidak tahu mana yang salah dan mana yang harus di perbaiki.   

Intinya hari ini sudah kali kedua Hasan gagal dalam mengurus administrasi, sangat kecewa  hati Hasan menyaksikan peristiwa yang di luar dugaan nya, Lembaga besar yang terkenal keilmuan nya, pusat study Islam tertua di dunia, di kotori oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dan tidak amanah dalam bertugas. 

“Dengan berat hati, Hasan yang hanya seorang diri terpaksa mengalah, tak banyak yang bisa dia lakukan, mencoba tetap tenang dan mencari cara agar semua masalah ini segera selesai. 

Kembali ke rumah tanpa hasil, dan memikirkan sebuah rencana yang bahkan tidak semua orang bisa menduga nya. 

Part 3 

Hari ini hasan tidak pergi ke kampus untuk antri pemberkasan, hari jum’at adalah hari libur, maka urusan kampus juga ikut libur  tepat di hari ke tiga dia dalam mengurus administrasi, Hasan tidak hanya pasrah dan diam, tapi dia sudah merancang sebuah rencana gemilang, di bantu dengan mahasiswa yang mempunyai visi dan tujuan yang sama dengan nya, dia adalah Amar, mahasiswa asal Sudan yang sempat ribut dengan mahasiswa asal mesir saat antri pemberkasan beberapa hari yang lalu 

Rencana nya adalah mengirim surat kepada grand syekh Al-Azhar,pada saat itu Syekh Ahmad yang menjabat sebagai kepala tertinggi Universitas, surat itu berisikan tentang kendala dan keluh kesah mahasiswa menjelang ujian, yaitu perihal pengurusan berkas  surat di kirim melalui Egypt Pos, tanpa nama dan identitas, hanya alamat Syekh Ahmad yang tertera di surat itu, Hasan sengaja merahasiakan nama pengirim.

Kali ini tugas Amar untuk menghantar surat ke kantor Egypt Post, setelah sampai disana dan menyampaikan maksudnya kepada tukang pos. 

“assalamualaikum yaa ammu,mau kirim surat untuk syekh ahmad”  Ucap Amar dengan pasti. 

Lalu tukang pos menanyakan “Ini surat dari siapa?”, karna Hasan dari awal sudah merahasiakan identitas nya, dan Amar pun bingung mau menjawab apa, melihat tidak ada respon dari Amar, sehingga tukang pos pun mulai curiga, dengan cepat membuka dan membaca isi surat itu, di saat yang bersamaan datang juga salah seorang  ammu syuun yang setiap hari bertugas di kantor administrasi. 

Suasana makin rumit, langsung saja tukang pos memberitahu ammu syuun itu tentang surat yang hendak di kirim ammar, seketika ammu syuun pun tau apa maksud dari surat tersebut 

“Heh.. jangan coba coba merubah al azhar ya.., kamu itu hanya mahasiswa, tidak perlu ikut campur urusan birokrasi kampus, tugas kamu itu hanya belajar, tak lebih dan tak kurang” ucap ammu syuun dengan nada ketus dan meremehkan Ammar.

 

“Yaa ammu, memang tugas kami sebagai mahasiswa adalah belajar, itu sudah menjadi kewajiban setiap mahasiswa, namun yang kami ubah di sini adalah sistem administrasi kampus saja, tidak birokrasi secara keseluruhan,”  

Ammar dengan tegas menimpali, memang Ammar sangat lugas dan berani dalam berkomentar dan komunikasi, tidak pandang bulu, selagi itu benar maka dia akan lawan. 

Sempat terjadi sedikit perdebatan 

“tau apa kamu tentang administrasi?”, ini sudah ada sejak lama, dari dulu Sitem nya seperti ini, jadi jangan sekali- kali  mencoba untuk merubahnya, hah..” 

 

Amar yang sudah menduka ini akan terjadi, mencoba untuk tidak membuang energi, mau di jelaskan bagaimana pun tidak akan bisa, akhirnya amar pulang ke tempat hasan dengan membawa kabar yang kurang menyenangkan tersebut. 

 

Setibanya di rumah Hasan, Amar menjelaskan apa yang baru saja terjadi, Hasan berusaha sabar mendengarnya. 

“Tidak Ammar, ini belum berakhir, masih ada satu kesempatan lagi, demi sistem yang terstruktur, mari kita pikirkan cara lain” ucap Hasan penuh harapan kepada amar. 

*** 

Malam itu hasan tidak bisa tidur, dia memikirkan cara agar pesan dan tujuannya dapat sampai dan di dengar oleh grand syekh 

“hanya ada satu cara, yaitu bertemu langsung dengan syekh ahmad, tapi bagaimana cara nya?, tidak sembarang orang bisa bertemu dangan orang sepenting Syekh Ahmad”  Hasan sempat ragu dengan rencana nya dan hampir menyerah, hingga satu keajaiban muncul, setelah tidak tidur semalaman dan azan subuh pun mulai berkumandang, hasan mengajak amar untuk sholat subuh berjamaah ke Masjid Al-Azhar, kejadian yang tak di duga pun terjadi, siapa sangka ternyata yang menjadi imam subuh itu adalah, seseorang yang sangat ingin Hasan jumpai dan sampaikan pesan kepadanya, siapa lagi kalau bukan grand syekh al Al-Azhar, Syekh Ahmad setelah sholat selesai, jamaah banyak sekali yang menyalami Syekh Ahmad, ada yang sekedar menanyakan kabar, ada juga yang mengambil foto bersama syekh, namun tujuan Hasan dan Amar jauh dari sekedar menanyakan kabar atau mengambil foto dengan beliau ada pesan dan keluh kesah yang selama ini ingin dia sampaikan, akhirnya terwujud juga, dengan penuh percaya diri Amar dan Hasan maju menghampiri Syekh Ahmad yang berada tak jauh dari mereka, setiba nya di hadapan syekh, Amar memulai pembicaraan, Amar yang menjadi juru bicara kali ini, menjelaskan dengan hari-hati maksud dan tujuan nya kepada syekh,  dan syekh menanggapi dengan antusias, setelah Amar selesai mejelaskan dan Syekh Ahmad Nampak setuju dengan rencana mereka. 

“Sistem digital seperti apa yang akan kalian tawarkan?”, tanya syekh dengan senyum ramah. Kali ini tugas Hasan yang menjelaskan 

“Baiklah, jadi begini syekh, setiap mahasiswa membuat akun pribadi, dengan data diri lengkap, lalu di akun tersebut terlampir dokumen mahasiswa, setelah dokumen di unggah, mahasiswa melakukan verifikasi untuk mendapatkan nomor ujian (roqm julus), lalu pastikan data dan akun mahasiswa terhubung dengan komputer kantor administrasi kampus .

Dengan ini, mahasiswa yang akan melakukan pendaftaran ulang atau melakukan pemberkasan, tinggal login akun, lalu unggah dokumen yang di perlukan, tidak perlu lagi antri panjang yang menghabiskan banyak waktu yang seharusnya bisa di gunakan untuk belajar dan persiapan ujian.” 

Hasan tampak lega setelah menjelaskan dengan penuh percaya diri kepada syekh ahmad, dalam hati dia berkata “kapan lagi mahasiswa baru bisa merubah sebagian sistem al Azhar, namun tidak ada yang tidak mungkin jika tujuan dan niat nya baik.” 

Mendengar penjelasan Hasan barusan, Syekh ahmad mulai menyadari bahwa memang Al-Azhar perlu perbaikan sistem, meningalkan system lama dan beralih ke cara yang lebih simpel dan efisien. 

“Baiklah kalau begitu, saran kalian saya terima, saya akan pertimbangkan dengan para direktur beserta staff administrasi tentang perbaikan sistem ini, dan saya harap ini akan berjalan dalam waktu dekat, doakan saja, tunggu kabar dalam beberapa hari ke depan ya.” kata syekh ahmad meyakinkan 

“Baiklah syekh, semoga para direktur dan staff dapat memahami dan menerimanya, terimakasih banyak atas kesempatan yang mulia ini”, jawab hasan dengan wajah berbinar, seolah ini adalah mimpi. 

Mereka berdua pun pamit pulang ke rumah setelah lebih kurang setengah jam berbincang.

Part 4 

Sudah satu minggu setelah Hasan dan Amar berbincang dengan Syekh Ahmad tentang perbaikan sistem, Hasan dan Amar pun pergi ke kampus untuk melihat keadaan kantor administrasi,tidak terlalu banyak terlihat mahasiswa mengantri, tidak seperti biasanya dan benar saja,  perubahan kecil itu pun di mulai, apa yang di impikan hasan selama ini terkabul, persis di depan kantor terdapat layar monitor lebar, dengan sistem digital, di layar bertuliskan sebuah perintah: “silahkan login dan verifikasi akun anda” 

Beberapa mahasiswa yang melihat itu seolah heran dan bertanya – tanya, “hah, sejak kapan system pemberkasan Al-Azhar sudah masuk era digital?”, kata salah satu mahasiswa  dengan heran bercampur senang.

Hasan dan Amar yang sudah dari tadi  berada di sana hanya tersenyum bangga dan saling lirik, mereka berhasil memperbaiki sistem yang telah ratusan tahun tertinggal. 

“Gimana mar, masih ingat gak?, kamu hampir mau berkelahi dengan orang mesir karna dia menerobos antrean minggu lalu, wkwwkkw “ tanya Hasan jail.

“Sudah lah san, lupakan soal itu, sekarang tidak ada lagi antrean panjang, tidak ada lagi kata-kata bukroh dari ammu syuun, tidak ada lagi saling sikut antrean, system sudah berubah, lebih baik dari pada tidak sama sekali.

“Berkat ide dan keberanian mu juga kan,” “Mending sekarang kita download dan login akun, dari pada kamu kena bukroh oleh ammu syuun, hahahaha.” balas Amar

Mereka berdua pun segera login dan verifikasi, tak butuh waktu lama, semua dokumen berhasil di kirim, dan terdapat  tulisan di layar monitor : 

PENDAFTARAN ANDA BERHASIL.!!! 

Editor: Alief Vandi Al-Ghazali

Posting Komentar