Perkara Sebelah Mata

Daftar Isi

sebelah mata


‎Perkara Sebelah Mata

Oleh: Mihalhayail‎

‎Pemberian tuhan sudah sepatutnya kita syukuri, mau ia tampak baik atau buruk di mata orang.
‎
‎Sedikit bercerita, dulu ketika mulai memasuki industri desain dan teknologi, aku membutuhkan alat yang sangat sakral; apalagi kalau bukan laptop.
‎
‎Dari dulu aku memang sudah terbiasa menggunakan laptop orang tua, curi-curi waktu kalau mereka lagi nggak pakai, untuk belajar apapun itu; desain dan coding utamanya.
‎
‎Suatu waktu, kupikir menggunakan laptop orang tua tidak lagi memungkinkan, jadi dengan berat hati harus kukatakan kepada ayah bahwa aku butuh laptop untuk belajar dan bekerja.
‎
‎Sebetulnya dari dulu aku bukan orang yang suka meminta, itu tampak dari handphoneku yang berharga kurang dari sejuta, dan kukira semua yang kupakai pun sama sederhananya, aku nggak muluk-muluk soal apapun kecuali makanan, itu tidak bisa dinegosiasikan.
‎
‎"Waled, aku butuh laptop untuk belajar," itu saja yang mampu terucap.
‎
‎Ayah hanya membalas beberapa kata lalu berdiam diri sembari mengapit sebatang rokok samsu di kedua jarinya.
‎
‎Sekedar meminta bukan berarti memaksa, dan ayah pun tahu aku tak bermaksud demikian, kami sama-sama mengerti.
‎
‎Beberapa hari setelahnya kabar gembira datang, ia membawa pulang satu laptop dan meminjamkan kepadaku untuk waktu yang singkat, betapa gembiranya diriku waktu itu, walaupun itu hanya laptop pinjaman setidaknya aku mempunyai laptop yang bisa digunakan selama 24 jam tanpa henti.
‎
‎Kupikir laptop itu hanya akan singgah selama 1 bulan di tangan, tapi Tuhan sepertinya paham benar keadaanku, laptop itu sempat aku gunakan selama beberapa bulan, melakukan berbagai hal bersamanya sungguh menyenangkan.
‎
‎Laptop Fujitsu keluaran lama, meskipun layarnya udah usang, tetapi spesifikasi lebih dari mumpuni, kudengar harganya puluhan juta dulu saat launching, terima kasih Ayah.
‎
‎Kalian pasti tahu sesuatu yang dipinjam tentu saja harus dikembalikan, laptop pertama yang terasa seperti milikku harus dikembalikan dengan berat hati setelah kupakai beberapa bulan. Aku kembali curi-curi waktu untuk memakai laptop orang tua, tapi setidaknya aku bersyukur orang tuaku memiliki laptop untuk aku pakai.
‎
‎Tapi aku paham betul, jika ingin memaksimalkan potensi yang kumiliki, aku harus memiliki perangkat sendiri untuk bekerja, mulailah aku mengumpulkan uang yang kudapat dari berkerja membuat web untuk membeli laptop.
‎
‎Walhasil, web sekolah yang kubuat membuahkan hasil yang bagus sekali kala itu, hingga akhirnya aku dapat membeli satu laptop bekas seharga 2,3 juta di halaman facebook.
‎
‎Hatiku seakan-akan terbang hari itu, bagaimana tidak, setelah sekian lama mengimpikan laptop, akhirnya setelah satu tahun lebih aku mampu membeli laptop dengan jerih payah sendiri.
‎
‎Tapi ceritanya baru saja dimulai, ini semua bukan soal laptop atau cerita perjuangan yang menggunggah hati, ini adalah cerita hati yang busuk.
‎
‎Baru beberapa hari aku mendapatkan semuanya dengan jerih payah, aku ditelpon oleh seseorang agar ditemani untuk dibelikan laptop, ibunya berkata kepadaku anaknya sepertinya butuh laptop agar bisa berkembang, tentu anaknya bodoh amat dengan keputusan ibunya. Ibu yang ingin anaknya berkembang dan anak yang bodoh amat dengan keputusan ibunya.
‎
‎Bagi kalian itu adalah cerita biasa, tapi bagiku itu adalah pelajaran hidup yang sangat bernilai, aku yang berjuang mati-matian selama satu tahun lebih untuk mendapatkan laptop seharga 2 jutaan berhadapan dengan seorang anak yang ditawari laptop oleh ibunya sehari sebelumnya, dibelikan laptop seharga 6 jutaan, dan bagian yang paling menyakitkan, dia bahkan tampak tidak terlalu peduli.
‎
‎Jujur hatiku penuh iri dan dengki hari itu, setidaknya mengapa si anak tidak sedikit bersyukur dan berusaha lebih setelah mendapatkan laptop. Perkara iri tak pernah habis dimakan waktu, ia akan terus ada selama manusia sendiri itu masih ada.
‎
‎Aku terus mengingat kejadian tersebut, bahkan hingga hari ini pun masih kuingat. Kendati sekarang perangkat yang kumiliki sudah lebih dari cukup, laptop 5 jutaan, monitor dan berbagai aksesoris lainnya.
‎
‎Tapi pelajarannya adalah, bagaimana cara kita melihat dunia dengan pandangan yang lebih luas, tingkah si anak memang tidak dapat dibenarkan sedari awal, ia tidak menghargai waktu dan pengorbanan ibunya, tapi bukan berarti ini tidak adil, Tuhan selalu adil dengan caranya.
‎
‎Si anak hingga sekarang tidak banyak mendapatkan manfaat dari laptop itu, bahkan ia tidak tahu banyak berbagai hal yang dapat dilakukan dengan sang laptop, sedangkan aku, lihatlah! Aku bisa melakukan banyak hal setelah memperjuangkan sebuah laptop, aku bisa coding, desain, menulis, dan bagian terbaiknya adalah, sekarang aku tahu cara menghasilkan uang.
‎
‎Setelah aku merenungkannya dalam-dalam, kini aku bisa lebih bijak untuk menyimpulkan fenomena yang semisal. Melihat orang yang dibelikan mobil di usia muda, handphone yang ia miliki seri tertinggi setiap tahunnya, aku tidak lagi iri, toh iri tidak pernah bernilai kebaikan di mata Tuhan.
‎
‎Lalu dengan apa aku harus melihat mereka? Lihat saja dengan mata positif dan dengan mata yang tidak merugikan siapapun.

Posting Komentar