Menghidupkan Malam atau Mematikan Subuh
Oleh: Arkan Faza Fauzan Adzima
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِبَاسًا وَٱلنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ ٱلنَّهَارَ نُشُورًا
“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.” (QS. Al-Furqan: 47).
Ribuan tahun lalu Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa, penciptaan malam sebagai waktu untuk istirahat dan siang menjadi waktu untuk beraktivitas. Namun menjadi ironi ketika penuntut ilmu agama yang seharusnya paling dekat dengan Al-Qur'an justru mengabaikan isi kandungannya sendiri.
Di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir), begadang seolah menjadi pemandangan yang jamak dijumpai. Ketika malam tiba, di berbagai kafe Kairo masih dipenuhi oleh Masisir, kita mudah menemui kumpulan Masisir. Ada yang mengadakan rapat organisasi, ada yang mudzakarah kitab, namun tidak sedikit pula yang menghabiskan malamnya untuk berkumpul tanpa tujuan yang jelas.
Kebiasaan begadang tentu memiliki dampak yang kurang baik terhadap kesehatan. Menurut National Sleep Foundation, kurangnya waktu tidur dan kebiasaan terjaga pada malam hari dapat mengganggu pola tidur serta memengaruhi kondisi tubuh pada keesokan harinya ketika malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dipakai untuk terjaga, ditambah produksi hormon melatonin akan terganggu. Tak heran ketika begadang semalaman di pagin harinya kita sering merasa linglung, sulit berkonsentrasi saat membaca kitab, dan kesulitan untuk mengingat kembali hafalan yang sebelumnya telah dihafal dengan susah payah.
Secara syar'i, persoalan ini juga sejalan dengan tuntunan hadis. Dari Abu Barzah al-Aslami, Rasulullah SAW membenci tidur sebelum Isya dan berbincang setelahnya [HR. Bukhari no. 568]. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa larangan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran akan melalaikan shalat. Namun, larangan ini tidak mutlak. Para Ulama memberikan pengecualiaan untuk begadang dalam perkara yang mengandung ketaatan, salah satunya adalah mempelajari ilmu atau mempelajari ulang materi yang sudah dipelajari. sebagaimana Imam al-Bukhari membuat bab khusus اََُّ في اّسمر باب (Bab: Begadang untuk Ilmu).
Selain untuk belajar, keheningan malam sebenarnya adalah panggung spiritualitas tertinggi bagi seorang mukmin melalui shalat malam. Sebagaimana Allah berfirman:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra': 79). Namun bagaimana realitasnya di bumi Kinanah hari ini?
Kebiasaan begadang di Mesir juga dipicu oleh faktor musim. Suhu siang hari di musim panas yang sangat menyengat membuat tubuh masih terasa gerah hingga awal malam, sehingga orang kesulitan untuk tidur lebih awal. Jarak antara Isya dan Subuh yang pendek membuat waktu malam terasa lebih singkat. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat membentuk kebiasaan tidur larut apabila tidak diimbangi dengan pengaturan waktu yang baik.
Jika pada awalnya begadang dipicu oleh keadaan, sayangnya kebiasaan begadang lama-lama terbawa hingga ke lingkungan tempat tinggal kita. Tidak jarang kita temui kawan yang menghabiskan malam hanya untuk bermain gim atau doomscrolling, bahkan tanpa sadar mengganggu kawan lain yang ingin beristirahat lebih awal.
Dan yang menyedihkannya, ketika waktu Subuh tiba, suasana yang tadinya riuh hingga larut mendadak sepi. Hanya sedikit yang tergerak melangkahkan kaki ke masjid. Akibatnya berpengaruh terhadap kegiatan di siang hari. Tidak sedikit kawan yang akhirnya kesulitan bangun untuk kuliah, tertinggal muhadharah, dan kurang maksimal menjalani hari karena begadang semalaman.
Padahal waktu setelah Subuh itu adalah waktu paling efektif untuk belajar. Karena pikiran kita di pagi hari itu masih bersih, belum memikirkan banyak hal, sehingga lebih mudah menyerap ilmu. Tidak heran para ulama dulu sangat menjaga waktu Subuhnya. Rasulullah SAW sampai mendoakan khusus: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” [HR. Abu Dawud no. 2606]. Sangat disayangkan jika waktu yang sudah didoakan berkah itu justru kita lewatkan dalam keadaan terlelap.
Karena itu, bagi saya, kuncinya sederhana. Selama urusan belajar, rapat, maupun berkumpul masih dapat diselesaikan pada siang atau sore hari, tidak ada salahnya menjadikan malam sebagai waktu untuk beristirahat. Dengan begitu, kita dapat kembali menjalani hari berikutnya dengan lebih siap untuk menuntut ilmu dan menjalankan berbagai aktivitas.
Pada akhirnya, baik dari sisi kesehatan maupun tuntutan Islam, begadang tanpa keperluan yang jelas dapat membawa kerugian. Mesir dengan segala dinamika kehidupannya menawarkan banyak ruang bagi kita untuk menentukan bagaimana waktu akan digunakan. Tinggal bagaimana kita mampu mengaturnya dengan bijak.
Jika malam kita habiskan untuk hal-hal yang sia-sia hingga mengorbankan salat Subuh, mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali kepada diri sendiri: untuk apa kita jauh-jauh datang ke Bumi Kinanah ini?
Editor: Nilna Muna Mubarokah, Ikmal DJ Salim

Posting Komentar