Jatuh dan Sadar | Mihalhayail

Daftar Isi

Jatuh


Jatuh dan Sadar

Oleh: Mihalhayail


‎"Hei, sadarlah! Kau masih punya banyak kesempatan kawan. Tolong menjauh dari tebing itu!" Seru Ian panik.
‎
‎"Tidak, hidupku sudah berakhir sedari kemarin, aku hanya menundanya hingga pagi ini," balas pemuda itu yang sedang berdiri tepat di ujung batas jurang.
‎
‎"Seberarti apa dia bagimu? Ayolah, kau masih banyak kesempatan," Ian mulai kehabisan kata.
‎
‎"Tidak ada lagi kesempatan," ucapnya lunglai.
‎
‎"Lalu bagaimana dengan ibumu? Bukankah perjuangannya akan sia-sia kalau kau bertingkah seperti ini." Ia mencoba celah lain.
‎
‎Pemuda itu tertegun. Bayangan masa kecil yang hangat mendadak terlintas. Namun, hampa di dadanya jauh lebih memekakkan.
‎
‎"Kamu benar. Aku rindu Ibu... dan aku akan bertemu dengannya sebentar lagi."
‎
‎Sial, kenapa malah makin memperkeruh keadaan? gerutu Ian dalam hati, merutuki kebodohannya.
‎
‎Nasib malang, waktu tidak memberikan waktu kepada Ian untuk berpikir lebih lama. Belum sempat Ian melangkah, pemuda itu sudah mulai menjatuhkan punggungnya ke arah jurang, bebas melayang ke kegelapan. Tidak ada lagi kesempatan.
‎
‎"Terima kasih Ian, kau sudah menjadi sahabat yang hebat." Teriakan pemuda itu melengking, memantul di dinding tebing, sebelum akhirnya tenggelam.
‎
‎Angin menghantam wajahnya deras. Sensasi melayang yang mengerikan membuat dadanya sesak, jantungnya seolah tertinggal di atas tebing.
‎
‎Gubrak!
‎
‎Ia tersentak bangun. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi dahi. Matanya menatap langit-langit kamar yang familier, diiringi suara denting jam dinding. Bukan jurang, hanya sprei teracak dan tubuhnya yang berkeringat membasahi kasur.

Posting Komentar