Al-Azhar: Surga untuk Dua Manusia

Daftar Isi

 
(Sumber: Pinterest.com)

Oleh: Muhammad Rafly Al Farezy Arif

Sebagai salah satu pusat pendidikan tertua di dunia yang masih bertahan hingga hari ini, Al-Azhar menjadi pilihan utama bagi para penuntut ilmu keislaman di segala penjuru dunia. Mulai dari serambi masjid hingga auditorium kampus, dari atas sajadah hingga kursi perkuliahan, dari pusat penyebaran paham Syi'ah hingga menjadi kiblat Wasatiah dunia. Al-Azhar punya kisah dan sejarah yang sangat panjang.

Sebab itulah orang-orang berdatangan, umur dikesampingkan, biaya diperjuangkan, orang-orang tersayang ditinggalkan, sementara ribuan harapan dari kampung halaman turut dipikul di pundak. Berlebihan? Mungkin. Tapi, memang begitulah faktanya. Mereka semua rela melakukannya hanya untuk datang ke tempat ini. 

Al-Azhar: Surga bagi Mereka yang Bersungguh-sungguh 

Gelar mentereng yang disandang Universitas Al-Azhar bukanlah tanpa alasan. Kurikulum yang terstruktur dan bertahap, prinsip yang tidak pernah goyah, bimbingan ulama pakar di bidangnya menjadi fondasi utama, ketersediaan literatur yang melimpah, biaya kuliah yang relatif terjangkau, beasiswa yang royal, serta lingkungan yang kondusif, membuat Al-Azhar sangat layak menyandang reputasi besar tersebut.

Ketersediaan fasilitas inilah yang memikat para pelajar muslim di seluruh penjuru dunia untuk datang ke Al-Azhar. Tidak heran jika Al-Azhar menjadi surga bagi mereka yang bersungguh-sungguh untuk terus belajar dan bertumbuh. Hal ini dibuktikan oleh lahirnya ulama-ulama besar dari rahim Al-Azhar, seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Zakariya Al-Anshori, Syekh Muhammad Abduh, Syekh Mutawalli Asy-Sya’rowi. Bahkan, banyak ulama Nusantara yang mengenyam pendidikan di sini, seperti Prof. Quraisy Syihab, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Nuruddin, Habiburrahman El-Shirasy, dan masih banyak lagi.

Dengan segala fasilitas yang ada, ditambah didorong keinginan untuk terus belajar dan bertumbuh, maka Al-Azhar bukan sekadar universitas tempat mahasiswa datang lalu pulang, tapi tempat yang akan melahirkan cendekiawan-cendekiawan Islam yang berpengaruh. 



Al-Azhar: Rumah yang Nyaman bagi Para Pemalas 

Di balik segala kemudahan tersebut, tersimpan realitas yang jarang disadari: tidak adanya kewajiban yang mengikat untuk belajar. Al-Azhar tidak menerapkan sistem absensi yang ketat. Mahasiswa yang jarang menghadiri kelas pun tetap diperbolehkan mengikuti ujian. Belum lagi bagi mahasiswa yang notabene adalah perantau pasti tidak memiliki sosok yang mengawasi dan mengingatkan mereka untuk belajar. Inilah yang membuatnya menjadi rumah yang sangat nyaman bagi mereka yang sejak awal tidak memiliki tujuan dan niat yang lurus saat datang ke Mesir.

Ujian ini tidak mengikuti kalender akademik, melainkan berlangsung setiap hari, mulai dari bangun hingga tidur kembali. Musuh yang dihadapi bukanlah lembaran kertas soal, melainkan rasa malas, penat, takut, dan putus asa. Semua itu dimulai sejak kaki kita pertama kali memijak Bumi Kinanah dan baru benar-benar berakhir ketika kita kembali ke tanah air.

Ujian Tanpa Pertanyaaan 

Sadar atau tidak, Al-Azhar menguji mahasiswanya melalui dua jalur: ujian formal di akhir semester dan ujian nonformal setiap hari. Merskipun, ujian formal di Al-Azhar itu berat, tapi akan selalu ada kemudahan yang menghampiri, entah dari pihak Al-Azhar sendiri atau dari sesama mahasiswa. Dan pada akhirnya sesulit apa pun ujiannya, kita tidak berjalan sendirian. 

Berbeda dengan ujian non-formalnya. Ia menguji mahasiswanya agar memiliki "keinginan". Namun, sebagian dari mereka mengatakan, “saya sudah memilikinya”. Memang, mengaku jika kita punya keinginan itu sangatlah mudah, tetapi sulit dilakukan, terlebih untuk dibiasakan. Ujian ini tidak diadakan di ruang kelas, melainkan di luar kelas ketika segala distraksi berusaha membuat kita terlena dari kewajiban kita sebagai penuntut ilmu.

Azhar: Antara Memanfaatkan atau Menyianyiakan Sebagaimana pernah disampaikan oleh Ustadz Nuruddin pada salah satu podcast, beliau pernah mengatakan, "Al-Azhar itu surga bagi orang yang benar-benar ingin belajar, tapi di saat yang bersamaan ia juga menjadi surga bagi para pemalas."

Ternyata apa yang dikatakan Ustadz Nuruddin benar adanya. Al-Azhar seakan-akan memberikan kita pilihan: menjadi orang yang betul-betul bijaksana dengan memanfaatkan segala fasilitas yang ada dan pulang dengan bekal yang cukup atau memilih menjadi orang yang menyia-nyiakan kenikmatan ilmu yang disediakan dan pulang tanpa membawa apa-apa. Pada akhirnya, Al-Azhar menyediakan fasilitas sebagai "alat", sedangkan berguna atau tidaknya alat tersebut sepenuhnya berada di tangan kita. Apakah kita akan pulang membawa pemahaman ilmu yang matang, atau justru pulang dengan tangan hampa? Pilihan itu ada di tangan kita masing-masing.

Maka, Al-Azhar hanya menyediakan; kita yang menentukan. Kita bisa menjadikannya surga ilmu pengetahuan jika kita ingin bersungguh-sungguh dalam belajar atau menjadi rumah tempat bermalas-malasan jika kita tidak ingin bersungguh-sungguh dalam belajar. Dan pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita sudah memiliki keinginan itu dan menjadikannya sebagai surga ilmu pengetahuan atau malah menjadi rumah tempat bermalas-malasan?

Editor: Syafiq Abdillah, Jazil Fadly Andeswar

Posting Komentar